Selasa, 24 Maret 2015

Between Two Worlds






Edisi 1


Kau adalah seorang pengembara, pencari ketenangan jiwa, pencari kebenaran yang hakiki, pencari Tuhan. Kau telah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan sangat lama yang menghabisan sebagian besar usiamu. Ribuan kilomter, puluhan tahun. Entahlah...  Simpanan uang sudah habis. Bekal terakhirmu sudah habis. Air minum sudah habis. Alas kakimu sudah rusak. Kau berjalan tanpa alas kaki. Bajumu sudah sobek dan tidak lagi mampu melindungi tubuhmu. Kau berjalan tanpa pakaian. Lapar dan dahaga sudah tak tertahankan. Bibirmu kering dan pecah-pecah. Tidak mampu lagi berbicara karena tenggorokanmu terlalu kering sehingga terasa sangat menyakitkan ketika berbicara, bahkan bernafas pun sangat berat, dadamu sangat sesak.

Tidak ada lagi keringat menetes karena tidak ada lagi air di dalam tubuhmu. Kau menangis namun tidak ada air mata yang keluar dari matamu. Kakimu mulai terluka dan berdarah. Tubuhmu kurus tak bertenaga.

Ini adalah langkahmu yang terakhir. Kau tidak kuat lagi. Kau tidah mampu lagi melanjutkan perjalananmu. Matamu buram nyaris buta karena keringnya tubuhmu. Ini adalah langkahmu yang terakhir. Ini adalah langkahmu yang terakhir. Yang terakhir.

Sinar matahari bertambah terik dan panas. Kau terjatuh di bawah sebuah pohon. Sambil terpejam lemas, kau menguatkan diri untuk berucap. Dan inilah kata-katamu yang terakhir, "Ambilah... aku serahkan jiwaku pada-Mu.. hanya ada aku dan diri-Mu..."
Ini adalah kalimat terakirmu. Kalimat terakhir. 

Matamu terpejam, tak mampu lagi membuka. Tubuhmu tidak mampu lagi bergerak. Telinga pun sudah tidak lagi mendengarkan. Kau kehilangan segalanya. Kau hanya sendirian tanpa teman, tanpa keluarga, tanpa harta, tanpa rumah, tanpa apa pun. Kau pun kehilangan inderamu. Tubuhmu mulai berhenti berfungsi. Kau seperti orang mati. Kau sudah mati.

Hanya nafas yang masih bisa kau rasakan. Tarikan nafas dan hembusan nafas. Tarikan... hembusan... tarikan... hembusan...  Entah sudah berapa lama kau hanya bisa terkapar di bawah pohon itu, tanpa tenaga, dan hanya mampu merasakan nafasmu sendiri. Satu jam, dua jam, enam jam? satu hari? Untuk apa menghitung? Waktu tidak lagi relevan. Jika masih ada sisa kehidupan di dalam hidupmu, maka itu sudah tidak relevan lagi terhadap kehidupanmu di dunia. Jika masih ada sisa nafasmu, maka nafas itupun bukan lagi milikmu. Jasadmu bukan lagi milikmu. Jiwamu sudah bukan milikmu lagi. Semuanya yang kau miliki selama ini adalah semu.

Hanya nafas... tarikan... hembusan...
Hanya nafas... tarikan... hembusan...
tarikan... hembusan....
tarikan....
hembusan...
...
...

Kemudian tidak terdengar apa-apa lagi. Kau sudah terputus dari dunia. Hanya kegelapan, kesunyian, diam. Tidak ada apa-apa lagi... kau hanya terdiam... kau tidak tau apakah kau tertidur atau terjaga... kondisi itu sudah tidak relevan lagi. Kau hanya diam. 
Diam... kosong...
kosong...
...

Jasadmu sudah mati, nyawamu diam, sukmamu terpejam, hanya ada jiwamu - ruh-mu. Jiwamu sekarang berada di antara dua dunia. Jiwamu melihat kepada dirimu. Kau tatap wajahnya. Dia adalah dirimu. Kau turun ke kegelapan. Turun terus... semakin tenggelam... kemudian terhenti. Kau berhadapan dengan sosok dirimu yang lain. Dia adalah dirimu. Dia berdiri di hadapanmu mencegahmu untuk turun lebih jauh. Dia memintamu untuk kembali. Kau hanya terdiam tak bergeming. Dia bereaksi atas sikapmu. Ia marah dan wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan... kau yang sudah dalam kondisi 'mati', pasrah dan tidak ada yang penting lagi di dunia ini bagimu hanya menatap mata makhluk menyeramkan itu. Kau menatapnya tanpa reaksi apapun, tak bergeming... diam.

Entah sudah berapa lama dan berapa kali makhluk itu mencoba mengusirmu. Ia datangkan dinginnya es padamu, panasnya api yang membakar tubuhmu. Ia datangkan air yang sangat banyak hingga kau tenggelam dan tak bernafas. Ia tusuk tubuhmu dengan kukunya yang panjang dan tajam seperti pedang. Kau hanya diam tak bergeming. Pasrah sempurna.

Makhluk itu berubah menjadi menjadi lebih besar... tubuhnya diliputi api dan matanya bersinar menakutkan, menatapmu dari atas selayak bersiap menginjak tubuhmu yang sangat kecil. Ia berteriak padamu untuk yang sekian kalinya... menyuruhmu pergi dari tempat itu. Dan ia pun melakukan serangan terakhirnya padamu. Ia menjatuhkan kakinya padamu. Kau tak bergeming. Kau terima serangan itu dengan ketenangan dan kepasrahan sempurna. Dirimu tetap berada di sini. Dan makhuk itupun berteriak panjang sambil menghilang, sirna dari hadapanmu.

Sosok makhluk yang mengerikan itu adalah "Mara". Dia adalah sisa ego-mu yang terakhir. Benteng pertahanan ego-mu yang terakhir. Di tepian jiwa ini, di perbatasan dua dunia, sang Mara melakukan serangan terahirnya. Kepasrahanmu yang sempurna mengalahkannya. Kau yang tersisa adalah kau yang sudah berserah diri secara sempurna kepada Sang Pencipta.

Hening... diam... kosong...
Diam... kosong...
Kosong...
...

Jiwamu turun lebih dalam... perlahan... semakin tenggelam ke kegelapan... 
Kemudian kau mendapati dirimu di suatu tempat yang tenang. Terdapat kehangatan. Tentram...  Damai... bukan... ini bukanlah kedamaian biasa... ini kedamaian yang lain... oh... sangat damai... tak dapat terkatakan... ada belaian di atas kepalamu... kau melihat ke atas... ada cahaya yang sangat terang... cahaya itu putih... perak... kemudian berubah menjadi hujan cahaya... sungguh indahnya.. tak terlukiskan... tak terbayangkan... 
Tubuhmu diliputi cahaya perak... terang... terasa bagai belaian... seperti kembali menjadi bayi di dalam pelukan ibu yang teramat sangat mencintaimu... kau berada dalam pelukan kedamaian... damai... sungguh damai... tak terkatakan...
Kau mengalami kebahagiaan yang tak-hingga kalinya dari kebahagian yang pernah kau rasakan. Tak terkatakan. Tak terlukiskan.
Kau tersenyum... 

Perjalananmu berakhir di sini. Kau telah sampai pada tujuanmu. Pendulum kehidupan menunjukkan titik diamnya padamu walau hanya sesaat.
Kau telah menemukan Nirvana.

Om Shanti Shanti Shanti


Kau telah tersentuh Kasih Tuhan. Kini kau tau bagaimana rasanya.
Cahaya dan Kasih Tuhan hadir di dalam hatimu, menyentuh ujung hati, hidupmu berubah seketika. Setiap tarikan nafasmu adalah sebuah anugerah tak terhingga dari Tuhan. Setiap hembusan angin ke kulitmu bagaikan belaian kasih yang sangat menyejukkan hati. Sinar matahari adalah luapan energi kasih Tuhan kepada dirimu. Kau telah tersentuh kasih Tuhan.

Dirimu yang dulu menjadi masa lalu. Dirimu yang sekarang adalah dirimu yang terlahir kembali. Bersih, suci, bercahaya, dan penuh syukur. Tidak ada yang mampu mengungkapkan rasa bahagiamu dengan kata-kata. Kau hanya mampu terdiam, kau merasakan kasih-Nya disetiap tarikan dan hembusan nafasmu. Inilah cinta suci. Cintamu terhadap Tuhan, dan cinta-kasih Tuhan pada dirimu.

Sudah berapa lama kau menunggu pencapaian itu? Tentunya hanya kau yang bisa menjawabnya. Pertemuanmu dengan Tuhan adalah hubungan paling intim, individual, personal. Tidak mungkin bisa dibagi kepada orang lain, namun dapat mempengaruhi orang lain dan alam disekelilingmu. 

Kau dan alam adalah Satu. Kau dan Tuhan adalah Satu.
Tidak ada kekhawatiran, kecemasan. Kau dan Tuhan selalu bersama. Kau sekarang hidup di dua dunia, maya dan nyata. Yang dulunya kau anggap nyata sesungguhnya adalah maya. Dan yang kau anggap maya sesungguhnya adalah Nyata. Tuhan adalah satu-satunya yang Nyata. Alam semesta ini adalah maya, semu. Dan kau sekarang merasakan keduanya. Kau mengetahui dengan sadar akan keberadaan dua dunia itu. Kau berada di antara dua dunia.

Sesungguhnya perbedaan antara kedua dunia itu sangatlah tipis. Inderamu yang dulu tidak mampu membedakannya. Sekarang kau mampu membedakannya. Setipis rambut dibelah tujuh. Kau bisa sedikit ke kiri (duniawi) atau sedikit ke kanan (akhirat), namun kau menjaga agar dirimu tetap sadar dan terjaga untuk tidak condong ke sisi manapun. Kau tau bahwa keseimbangan itulah yang terbaik. Kau tidak memilih baik atau buruk, karena yang terpenting adalah Tuhan. Kau tidak memilih surga maupun neraka, karena yang utama adalah Tuhan. Tidak ada pahala maupun dosa, karena yang utama adalah Tuhan.

Kau hidup di dua dunia yang terpisah tapi juga satu, karena alam ini adalah proyeksi Tuhan. Alam ini eksis di dalam Tuhan. Maka semuanya illahi. Semuanya satu. Kau hidup di dua dunia yang satu, ibadahmu adalah duniamu, dan duniamu adalah ibadahmu.

Alam memancarkan kasih Tuhan padamu, pada seluruh makhluk. Kau merasakan kasih tersebut setiap saat, tak henti-hentinya. Kebahagiaan tanpa henti. Tidak ada ruang untuk berhenti merasakannya. Kebahagian adalah sekarang. Kau hanya mampu terpejam, tertunduk, bersujud penuh rasa syukur. Tidak lain selain rasa syukur. 

Kau sekarang mengerti bahasa alam, bahasa ruh, bahasa hati. Kau mendengarkannya, memahaminya, dan kau sadar akan pentingnya keseimbangan alamiah di segala tindakanmu. Kau mengerti pentingnya memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Dan alam ini adalah Dia. Tuhan adalah kebenaran yang hakiki.

Kau dan aku adalah satu dalam Tuhan. Kasih Tuhan terpancar dari kau dan aku. 
Kasihilah sesama seperti kasih Tuhan pada dirimu. Tidak ada manusia yang dibedakan, karena perbedaan itu semu. Seluruh manusia adalah satu dalam kasih Tuhan.
Namaste. I bow to the God within you. Aku bersujud kepada Tuhan di dalam dirimu.
Laillaha illallah. Tidak ada Tuhan selain Tuhan.



Wahai sang pengembara dua dunia,
Perjalananmu belum berakhir. Nirvana adalah akhirmu. Kau akan kembali pada-Nya. Kerinduan pada Tuhan tak terbendung, tak tertahan. Tuhan adalah sang pengembalamu. Ikuti Dia. Temani Dia. Dengarkan senandungNya, dengarkan kisahNya untukmu.
Kasihilah sesama. Berbagilah. Jadilah guru yang suci dan bermanfaat bagi sesama makhluk. Sampaikanlah kasih Tuhan pada semua makhluk.

Senyumanmu adalah kasih Tuhan. Kesabaranmu adalah kasih Tuhan.
Perjalananmu adalah panutan bagi yang lain kepada kasih Tuhan.


================
ER

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Nirvana itu disebut bukan surga, tapi aku yakin itu surga. Saat tubuh kita sudah menyatu dengan kebahagian tertinggi yang abadi.

Menurutmu, bagaimana keadaan orang-orang yang sering berbuat salah dalam hidup, setelah matinya Er? Bukankah tidak adil saat dia meninggal dia pun akan mencapai Nirvana?

Erianto Rachman mengatakan...

Ruh yang ada disetiap manusia adalah Tuhan. Sehingga setelah seorang manusia mati, ruh akan kembali ke Tuhan.

Apakah "kembali ke Tuhan" itu adalah surga? apakah nirvana? Tidak. Tujuan akhir ruh adalah Tuhan, bukan surga ataupun neraka. Karena surga dan neraka adalah semu bagiNya. Yang nyata hanya Tuhan.

Kejahatan dan kebaikan tidaklah relevan. Yang perlu dipahami adalah "kemelekatan" terhadap kehidupan duniawi.
Perbuatan anda akan berpengaruh kepada kekuatan kemelekatan anda kepada dunia ini. Semakin kuat kemelekatan anda terhadap duniawi maka akan sulit jasad anda berpisah dari nyawa dan sukma anda. sangat sakit.

Maka baik dan jahat tidak penting.
"to die well is toe live well"
untuk meninggal tanpa rasa sakit, adalah dengan menjalani hidup tanpa kemelekatan.
jika anda berbuat kebaikan dengan mengharap imbalan (apapun bentuknya) maka itu disebut kemelekatan.
jika anda berbuat jahat, itu juga kemelekatan.
Yang terbaik adalah berbuat baik tanpa kemelekatan. Tanpa mengharap imbalan atau pujian.
Mengharap pahala dan surga adalah termasuk imbalan. anda harus ikhlas sempurna.

Hati yang ikhlas akan mengurangi kemelekatan.

Anonim mengatakan...

Jadi kesimpulannya Surga dan Neraka tidak ada ya ?

Erianto Rachman mengatakan...

Keberadaan surga dan neraka ada di keyakinan masing-masing manusia, di kenyamanan hatimu saat ini.

Apakah hatimu merasa nyaman bila megetahui bahwa kau akan masuk surga nanti karena kau sudah berbuat banyak bebaikan? maka Surga itu nyata bagimu.
Apakah hatimu merasa nyaman bila mengetahui bahwa ada neraka yang akan menghukum orang yang tidak berbuat kebaikan terhadap sesamanya? maka neraka itu nyata bagimu.

Di perjalanan yang lebih lanjut, atau lebih jauh, seperti pada cerita pengembara di atas, maka baginya yang terpenting cumalah SATU, yaitu Tuhan. Ia tidak berbuat baik selama hidup karena ia ingin masuk Surga, atau tidak berbuat jahat karena ia tidak ingin masuk neraka. Tetapi ia berbuat baik karena Tuhan. dan ia menjauhi berbuat jahat juga karena Tuhan semata. Tidak ada syarat apapun. Hanya satu, yaitu karena cintanya pada Tuhan.

Silakan direnungkan.

Salam, ER

Anonim mengatakan...

Setelah manusia meninggal apakah dia langsung menyatu dengan TUHAN dan tidak mengalami hisab atau diadili berdasarkan kebaikannya waktu didunia, jika baik masuk kesurga jika buruk masuk neraka

Erianto Rachman mengatakan...

Saya harus menekankan kepada anda bahwa jawaban yang saya berikan ini bukanlah doktrin atas anda. Anda harus melakukan pencarian sendiri untuk menemukan kebenaran yang hakiki.

Setelah manusia mati, ia akan terurai menjadi komponen pembentuknya, yaitu 'jasad' yang kembali ke alam, menjadi tanah kembali bila ia dikuburkan, 'nyawa' yang berupa energi kehidupan, kembali juga ke alam, tidak akan hilang. Kemudian 'sukma' yang berupa kesadaran, tinggal selamanya di alam, dan 'ruh' yaitu sat Tuhan, akan kembali kepada Tuhan.

Kedua komponen, nyawa dan sukma melekat pada alam. Kemelekatan mereka pada alamlah yang menentukan apakah proses peruraian pada saat kematian ini terjadi dengan lancar atau tidak. Hal ini ditentukan dari ukuran atau kondisi hati manusia itu.

Bila hati kita ringan, artinya selama hidup melakukan kebaikan tanpa pamrih apapun, maka akan mengurangi tingkat kemelekatan pada alam fana ini. Bila selama hidup melakukan sesuatu yang tidak baik atau baik tapi mengharapkan imbalan, maka terjadi kemelekatan antara kau dan alam. Semakin kuat kemelekatan, semakin sulit anda terurai saat kematian.
Yang dirasakan adalah sakit, karena komponen dirimu menolak pemisahan/penguraian itu.

Kemelekatan yang terlalu kuat terhadap keduniawian akan mencegah anda untuk berdamai dengan kematian
Anda akan dilahirkan lagi, dihidupkan lagi, terus menerus tanpa henti sebelum alam ini benar2 berhenti eksis.
Hidup di dunia adalah penderitaan. Yang terbaik adalah mati dan tidak terlahir kembali. Sempurna kembali kepada Tuhan.
Berbuatlah kebaikan di dunia bukan karena pahala dan surga, melainkan karena Cinta Tuhan semata. Hanya cinta Tuhanlah yang nyata.

Silakan direnungkan.
Salam, ER

Ferry Ray mengatakan...

Begitulah adanya....

Ferry Ray mengatakan...

Begitulah adanya...