Jumat, 07 Juni 2013

The Knowledge



 
Edisi 4

Nature Knowledge Theory
(Source Link: Nature Knowledge Theory)

Baru-baru ini saya berkesempatan mengenal seorang ilmuwan yang sangat luar biasa asal Universitas Airlangga (UNAIR), yang saat ini aktif sebagai Research Associate (dibidang Knowledge Management / KM) di School of Business & Management ITB (SBM-ITB). Seorang yang menelurkan teori yang dinamakannya, Nature Knowledge Theory (NKT). Beliau adalah DR. MD. Santo. Dari membaca teorinya, saya merasa sudah megenal DR. Santo sejak lama. Sungguh suatu perasaan yang sangat berlimpah kesenangan dan antusias tinggi ketika apa yang saya baca dari tulisan DR. Santo bersambung atau relevan dengan apa yang saya pelajari selama ini. Bagaikan gayung bersambut.

DR. Santo menorehkan teorinya dengan pertimbangan matang, hasil kerja selama puluhan tahun. NKT adalah sebuah teori yang berupaya menjelaskan perilaku alam semesta dengan melibatkan satu komponen yang tidak diperhitungkan sebelumnya oleh fisikawam teoretis manapun di dunia, mulai dari Einstein hingga Edward Witten sekalipun. Walaupun pada akhirnya Einstein mengakui bahwa ada suatu kualitas "kesadaran" (consciousness) yang terlibat pada alam semesta, namun ia tidak meng-kuantitas-kan sesuatu kualitas itu ke dalam persamaan matematisnya.

DR. Santo dengan berani menyatakan bahwa pendekatan ilmu yang dianut dan dijalani oleh orang harus berubah. Karena dengan kerangka berpikir demikian tidak akan didapat jawaban yang dicari. Metode tersebut adalah yang biasa kita ketahui sebagai DIKW atau DATA - INFORMATION - KNOWLEDGE - WISDOM.

Orang pada umumnya melihat dunia dari dasarnya kemudian dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Pola berpikir sepert ini tidak salah pada kesempatan tertentu, namun tidak demikian bila digunakan untuk menjawan pertanyaan yang melibatkan asal-usul alam semesta dan penciptaan. Demikian pula hingga ke Tuhan. Kerena pola tesebut menghambat kelanjutan dari proses penelitian itu sendiri.

Untuk menyimpulkan perilaku alam, orang akan mulai mengumpulkan data-data dari alam itu sendiri. Bila data sudah cukup terkumpul, maka korelasi antar data serta dengan kalkulasi yang komprehensif, akan menghasilkan informasi. Informasi mengajak manusia untuk mengajukan tesis, dan mengujinya. Hasil yang didapat adalah berupa knowledge, atau pengetahuan bahwa alam berperilaku demkian karena hal-hal tertentu. Dari knowledge ini manusia akan mampu melihat alam dari kacamata yang lebih tinggi dan bijak, sehingga manusia dapat memikirkan hal lain lagi yang berpengaruh lebih besar. Inilah Wisdom. Inilah metode atau kerangka berpikir atau pendekatan kita terhadap obyek yang menjadi bahan kajian. D-I-K-W.

Sedangkan DR. Santo berpikir sebaliknya. Untuk menjawab pertanyaan besar manusia mengenai alam ini, alam ini harus dipandang dengan kerangka W-K-I-D. Yaitu dari sebuah (pada awalnya hanya ada) Wisdom, lahirlah Knowledge. Dari Knowledge, terjabarkan menjadi kumpulan Informasi, yang kemudian lebur ke kumpulan Data, yaitu alam itu sendiri. WISDOM - KNOWLEDGE - INFORMATION - DATA.

Bagaimana DR. Santo mendapatkan pemikiran seperti itu?
Dengan segala rasa hormat saya kepada beliau, saya akan coba mengangkatnya di sini.


Standard Model and the 4 Forces

Anda harus sudah membaca tulisan saya yang berjudul "Braneworlds". Karena anda sudah harus mengerti mengenai gaya-gaya (force, forsa) fundamental alam. Bila belum, maka saya sarankan anda untuk berhenti membaca artikel ini, dan membaca artikel saya yang berjudul "Braneworld" terlebih dahulu, sekarang.

Alam ini memiliki 4 forsa fundamental, yaitu Forsa Nuklir Kuat, Forsa Nuklir Lemah, Forsa Elektromagnetic, dan Forsa Gravitas. Setiap Forsa itu diwakili oleh partikel-pertikel boson (partikel perantara). Forsa Nuklir Kuat, oleh partikel Z. Forsa Nuklir Lemah oleh partikel W. Forsa Electromagnetik oleh partikel Photon (cahaya), dan Forsa Gravitasi oleh Graviton.

Kita sudah paham bahwa untuk menjawab pertanyaan besar seperti; "bagaimana alam semesta ini tercipta?", kita harus kembali ke masa lalu dimana 4 forsa yang menjadi cikal-bakal penciptaan alam ini masih berupa satu energi tunggal di dalam singularitas momen penciptaan. Dan kita ketahui bersama bahwa secara pengkukuhannya, teori "Standard Model" oleh komunitas science umum, manusia hanya mampu menggabungkan Forsa Nuklir Kuat, Forsa Nuklir Lemah dan Forsa Elektromagnetik. Sedangkan Forsa terakhir, yaitu Gravitasi terpisahkan dari yang lainnya.

Mengapa penggabungan (unification) itu begitu penting? Seperti yang saya katakan di atas, pada awalnya hanya ada satu forsa tunggal, kemudian melalui proses penciptaan ia terpecah menjadi 4. Peristiwa ini menghasilkan energi yang sangat besar. Ruang dan waktu terbentuk di sini. Dan dari energi besar itu terciptalah partikel materi yang mengisi alam semesta ini dengan bintang, planet dan semua obyek yang ada di alam semesta. Dengan demikian maka untuk mengetahui proses penciptaan yg terjadi di masa lalu itu, kita harus tahu bagaimana menggabungkan kembali keempat forsa tesebut menjadi satu forsa tunggal. Bagaimana sebuah forsa tunggal bisa terpecah. Dengan teori fisika, manusia bagaikan me-rewind alam ini ke sebuah kondisi alam yang sangat rapat, betekanan sangat tinggi dan suhu yang sangat panas. Sesaat setelah Big Bang.

Mengapa mengetahui proses penciptaan ini sangat penting? Bukankah hal ini bagaikan mempertanyakan sesuatu yang bersifat metafisika atau mistis? Maafkan saya bila saya tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai setiap kali orang bertanya demikian. Bukankah manusia ditakdirkan untuk berpikir mengenai hal ini? Dengan otak kita mempertanyakan peristiwa penciptaan. Ini adalah sangat wajar. Dan sangat penting artinya. Tidakkah kalian ingin mengatahui bahwa apa yang kalian yakini sebagai TUHAN kalian itu sesungguhnya memang ADA dan menjadi Maha Penyebab segala sesuatu yang ada di alam ini? Tidakkah ini penting untuk anda?

Dan pada kenyatannya, setiap kali manusia merasa sudah mencapai sesuatu, terbukalah misteri alam yang baru. "Masih ada langit di atas langit." Hal ini penting karena kita akan mampu membuktikan melalui science bahwa memang alam ini Maha Besar! ketimbang dengan pasrah tanpa sedikitpun rasa penasaran menerima doktrin yang diajarkan di kelas agama, khotbah Jumat, atau khotbah minggu?

Dan mengapa science? Seperti di banyak tulisan saya sebelumnya (salah satunya adalah The Grand Design), Tuhan menciptakan alam ini dengan sebuah hukum baku. Yaitu science. Hukum ini tidak berubah. Sehingga dengan menggunakan science, manusia akan mampu menjawab dan mengetahui kebenaran yang hakiki, termasuk momen penciptaan, dan Kebesaran Tuhan itu sendiri.

Mengapa saya berani mengatakan bahwa Tuhan menciptakan alam dengan hukum science? Karena semua yang ada di alam ini memang mematuhi konstanta-konstanta serta aturan-aturan atau hukum-hukum yang dapat di kuantitaskan ke dalam rumusan dan persamaan matematis. Ini adalah sebuah bukti bahwa dengan science - dengan membaca alam - kita sama halnya sedang membaca kalimat-kalimat atau firman Tuhan.

Masih ragukah anda akan hal ini? Semoga tidak.

Teori Relativitas Einstein menjelaskan perilaku benda-benda masif seperti bintang dan planet. Gaya gravitasi berperan besar di situ. Teori relativitas berhasil dengan baik di wilayah ini. Sedangkan Mekanika Quantum menjelaskan perilaku partikel-pertikel subatomic dan fundamental. Gaya gravitasi tidak diperhitungkan karena tidak berpengaruh. Dan mekanika quantum bekerja dengan baik di wilayah yang super kecil ini. Namun kedua teori ini saling bertentangan. Relativitas melibatkan gravitasi di perhitungannya, sedangkan mekanika quantum tidak.

Dengan demikian teori relativitas tidak bisa digunakan untuk menghitung benda-benda kecil seperti partikel fundamental, karena gravitasi tidak ada di sana. Mekanika quantum pun tidak bisa digunakan untuk menghitung perilaku benda-benda masif seperti bintang dan planet karena mekanika quantum tidak memasukkan gravitasi dalam persamaannya. Orang dipaksa menerima adanya dua teori yg berbeda ini selama bertahun-tahun sampai ditemukan sebuah benda langit yang sangat kecil tapi memiliki gravitasi sangat besar, benda ini adalah Lubang Hitam, atau Black Hole.

Saya anggap anda sudah tahu apa itu Black Hole. Bila tidak, silahkan dibaca kembali tulisan saya sebelumnya. Bagaimana cara orang mengetahui apa yang ada di dalam Black Hole? Apakah menggunakan teori relativitas, ataukah mekanika quantum? Kedua teori itu runtuh di black hole. keduanya tidak mampu menjelaskan apa pun mengenai mekanika black hole. Black Hole adalah lubang yang benar-benar hitam, tidak ada yang mampu lolos dari tarikan gaya gravitasinya, bahkan photon atau cahaya sekalipun. Jika sebuah obyek tidak dapat dianalisa dengan perangkat apa pun, maka obyek itu seakan-akan tidak nyata. Inilah momok terbesar bagi kedua teori ini. Harus ada satu perangkat teori baru yang mampu benar-benar melibatkan keempat forsar alam, dan menjelaskan black hole.

Standard Model, atau Quantum Chromo-dynamic (QCD) tidak mampu menggabungkan Teori Relativitas dengan Mekanika Quantum. Gaya gravitasi masih terpisah. Teori ini tidak menunjukkan tanda-tanda mungkinnya graviton - yang yang gayanya kita rasakan sehari-hari, yang menempelkan kita pada bumi, mengatur pergerakan planet terhadap matahari - digabungkan ke dalam sebuah teori tunggal yang akan mampu menjelaskan seluruh alam semesta, sebuah teori segala hal (Theory of Everything, TOE).


M-Theory

M-Theory muncul menjawab kesulitan besar yang dialami oleh Standard Model. Edward Witten sang pencetus teori ini membuka cakrawala ilmu pengetahuan baru yang berani dengan sangat baik melibatkan seluruh forsa alam ke dalam satu rumusan. M-Theory merubah cara pandang kita mengenai partikel fundamental yang harus berbentuk string dengan ukuran sangat kecil. Bukan berupa bola atau titik seperti yang dianggap orang sebelumnya. Dapat dibayangkan; jika seluruh tata surya ini adalah sebuah atom, maka string adalah sebuah pohon di bumi. String berukuran sangat kecil dan hanya memiliki 1 dimensi-ruang. Dengan menguak alam partikel pada ukuran sekecil ini, ilmuwan teori string menemukan graviton. Graviton adalah partikel fundamental - boson - penghantar forsa gravitasi, tidak bermassa. Gaya yang dihasilkannya terlalu kecil nyaris tidak ada. Namun graviton eksis di setiap materi, di setiap atom.

Bagaiman teori string berkembang menjadi M-Theory? Silahkan baca artikel saya sebelumnya, Braneworlds.

Bagaimana M-Theory menjawab teka-teki black hole?
Diperkenalkannya M-Theory membuka tabir misteri yang selama ini tidak diketahui manusia bahwa tabir itu ada. Manusia dengan berani melongok ke dalam dan menemukan lebih banyak lagi misteri dengan segala keanehan-keanehan alam yang sama sekali baru, bahkan melampaui imajinasi terliar manusia. Sebuah ranah penuh gegap gempita kosmos yang tadinya diam tertutup, sekarang terbuka dan bergejolak.

Diperkenalkannya string pertama-kali mengundang beragam reaksi, dan M-Theory memperkenalkan banyak hal yang jauh lebih misterius, yaitu string berdimensi lebih, yang dengan kondisi khusus membentuk "membrane"atau disingkat "Brane" yang dapat mengembang ke ukuran alam semesta kita ini. M-Theory mengharuskan adanya 10 dimensi-ruang, sehingga membuat total 10 dimensi-ruang + 1 dimensi-waktu = 11 dimensi ruang-waktu. Bagaimana manusia harus memahami hal ini?

Alam semesta yang menjadi tempat tinggal kita ini adalah sebuah membrane yang memiliki 3 dimensi-ruang. Atau disebut 3-Brane, yang melayang-layang di dalam ruang yang berdimensi lebih tinggi. Alam semesta kita adalah satu dari banyak jumlah alam semesta lainnya (alam semesta parallel).

Masih belum cukup, M-Theory juga mengharuskan kita menerima bahwa alam semesta ini tidak berawal dan tidak berakhir. Yang berarti bahwa Big Bang bukan peristiwa penciptaan.

M-Theory adalah sebuah teori yang sangat elegan. Persamaan matematisnya tanpa cela dan berhasil menyelesaikan berbagai persoalan yang ditemukan dan tidak dapat diselesaikan oleh Standard Model, dengan baik, namun dengan konsekuensi yang luar biasa. M-Theory dinobatkan oleh Stephen Hawking sebagai Theory of Everything.

Perkembangan M-Theory berimplikasi pada banyak hal lainnya. Para ilmuwan fisika teoretis bagaikan menemukan a Brane New World to explore. Jika string yang berdimensi 1 itu (atau 1-brane) memerlukan ruang dan waktu untuk bergetar,  maka bagaimana mungkin ia disebut sebagai bahan dasar pembentuk ruang dan waktu? Hal ini tidak mungkin. Bahan dasar pembentuk ruang dan waktu tidak boleh membutuhkan ruang dan waktu untuk eksis. Maka bahan dasar itu harus terpisah dari ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang harus bergantung padanya, bukan sebaliknya. Maka diajukanlah sebuah entity tanpa dimensi, yaitu 0-Brane (Zero Brane), yang bukan berwujud string tapi hanya titik tanpa dimensi. 0-brane memenuhi setiap lokasi di alam dan menjadi kerangka ruang dan waktu.

Saya harus membatasi diri untuk tidak mengulang tulisan saya sebelumnya, karena akan menjadi pengulangan tulisan terus-menerus setiap kali saya menulis di blog ini jika harus berbuat demkian. Saya akan menganggap anda sudah membaca tulisan tulisan saya sebelumnya.

Graviton adalah partikel dengan string tertutup (satu-satunya yang kita tahu memiliki string tertutup). Artinya, ia tidak memiliki tambatan ke membrane manapun. Inilah jawabannya mengapa gaya/forsa gravitasi dirasa sangat lemah. Namun sesungguhnya ia sangat kuat dan mungkin terkuat dari ketiga forsa lainnya. Namun hanya graviton yang ber-string tertutup sehingga forsa yang besar itu harus dibagi ke semua membrane. Jadi, jika kita kembali ke Black Hole, maka black hole yang bergravitasi sangat besar itu merupakan tepat terpusatnya graviton dalam jumlah besar. Maka jika ada black hole di alam semesta ini, ia membuka celah ke membrane lain yang dimana alam 3-brane kita ini wujud. Bagaikan lubang pada sebuah bola yang menghubungkan ruang di dalam bola dengan ruang di luar bola. Demikianlah M-Theory menyelesaikan misteri black hole yang tidak mampu diselesaikan oleh Standard Model.

Mengenai Big Bang. Big Bang adalah peristiwa bersinggunannya dua buah membrane. Tabrakan dua membrane akan menghasilkan energi besar. Ledakan energi inilah yang disebut Big Bang. Dengan demikian, Pernah terjadi tak hingga kali Big Bang di masa lalu dan akan terjadi tak hingga kali Big Bang di masa depan. Sedangkan, seluruh alam 11 dimensi ruang-waktu yang berisikan membrane-membrane ini tidak berawal dan tidak berakhir.


Renungan 1

Sampai di sini, anda sudah harus dapat mengambil sedikit kesimpulan dan gambaran bahwa dengan diperkenalkannya M-Theory ini maka kita sudah semakin dekat kepada misteri terbesar alam ini. Sebuah entity tanpa dimensi yang berwujud di "luar" sana.. Sebuah alam tanpa awal dan tanpa akhir. Graviton sebagai media penghantar yang dapat eksis di manapun. Kesemuanya ini berujung pada satu kesimpulan yang akan menjawab misteri besari itu. Penciptaan, dan TUHAN itu sendiri.

Alam ini tidak berawal dan tidak berakhir tapi ia berbatas. Batasan itu adalah science itu sendiri. Jika M-Theory benar, maka manusia sedang berada di tapal batas itu. Pertanyaan selanjutnya adalah; ada apa di balik tapal batas itu? Apakah masih relevan dengan hukum alam yang kita tahu? Saya berulang kali menekankan kepada anda bahwa alam ini diciptakan dengan hukum alam yaitu science yang dijabarkan dalam rumusan fisika atau persamaan-persamaan matematis. Lalu kenapa saya masih mempertanyakan masihkah science relevan dibalik tapal batas itu?

Bahkan Albert Einstein yang mendapat predikat orang terpintar dan tercerdas dalam sejarah umat manusia, mengakui bahwa ada semacam "kesadaran" (consciousness) yang mengatur alam ini. Silahkan temui komentar ini di buku "Science and the Unseen World" oleh A.S. Eddington. Terlebih lagi, dalam buku terakhirnya, "The Grand Design", Stephen Hawking pun menyuratkan bahwa Tuhan tidak perlu campur tangan mengatur alam ini karena adanya gravitasi. Gravitasi adalah kekuatan pengatur alam semesta.
Baca: "The Grand Design"

Mari kita menuju puncak dari tulisan ini.


The 5th Force

DR. MD Santo dalam teori NKT-nya mengatakan bahwa harus ada satu ingredient lagi - satu buah forsa lagi untuk melengkapi semua persamaan yang ada. Yaitu KNOWLEDGE. Knowledge adalah forsa dengan boson-nya yang ia namakan "KNOWON" (k). Knowon adalah ingredient terakhir. Jawaban pamungkas untuk kelengkapan Theory of Everything.

Adalah satu ranah atau realm atau plane yang berisikan satu hal; Knowledge. Knowledge dengan boson-nya, knowon, berinteraksi dengan Graviton membentuk boson sendiri yang disebut Duo-Entity-Force (DEF). Karena sifatnya, DEF ini bersifat Independent to Space-Time (IST). Dan inilah yang sesungguhnya oleh para ilmuwan ditemukan sebagai Higgs boson.

Apa itu Higgs boson? Mengapa ia sampai dijuliki partikel Tuhan?
Sedikit menoleh ke belakang ke satu hal yang kita terima apa adanya tanpa harus merasa perlu mempertayakanya, yaitu massa. Massa ada di jantung setiap eksistensi materi di alam. Tanpa massa, maka alam ini tidak dapat dijabarkan. Bahkan persamaan terkenal Einstein E=mc^2 tidak akan ada artinya bila massa tidak ada. Einstein membuktikan kepada kita bahwa Energi dan Materi dapat dipertukarkan. Energi bisa berubah menjadi materi, dan sebaliknya materi bisa berubah menjadi energi. Materi adalah massa itu sendiri, karena setiap materi harus memiliki massa.

Tanpa massa maka gravitasi tidak berpengaruh pada alam ini. Seperti persamaan Newton F=mg. Gaya (Force) adalah massa berbanding lurus dengan percepatannya (a) atau gravitasinya (g). Dengan demkian maka Gravitasi adalah gaya pada setiap percepatan (a) atau (g). Jelas bahwa tanpa massa, maka materi tidak memiliki gravitasi. Atau tanpa massa, gravitas tidak berlaku.

Kesimpulannya, tanpa massa, alam ini tidak eksis. Lalu dari mana datangnya massa? Bagaimana sebuah partikel materi memiliki massa? Apakah ini pertanyaan sepele menurut anda? - "Tentu saja massa pasti ada otomatis pada setiap partikel"? - Pernahkah anda mencoba membayangkan seperti ini; ambilah contoh partikel Electron. Electron adalah partikel fundamental yang tidak dapat dibagi lagi. Dan ia memiliki massa sebesar 9.10938291 × 10^31 kilogram. Perlu diketahui bahwa setiap properti atau sifat pada materi diwakili oleh partikel-partikel pembentuknya. Seperti properti muatan (listrik) yaitu electron, elektromagnetic yaitu photon, ikatan pada inti yaitu partikel Z, hingga massa pun adalah sebuah properti yang harus diwakili oleh partikel sendiri, yaitu partikel Higgs.

Anda sekarang mengerti dan sependapat mengapa pencarian partikel Higgs menjadi sangat penting? Tanpa Higgs, maka tidak ada massa, tanpa massa maka alam ini tidak eksis. Begitulah kira-kira bagaimana cara mudah untuk mengerti pentingnya partikel Higgs ini.

Nah, saya kembalikan ke electron. Electron adalah partikel fundamental, maka dimana massa-nya? Apakah ia harus didampingi oleh partikel Higgs agar ia memilki massa? Bila ya, maka electron bukan lagi partikel fundamental. Tapi electron adalah particle fundamental! Jadi bagaimana ia bisa memiliki massa tanpa harus didampingi Higgs?

Jawabannya ada pada sifat sesungguhnya dari Higgs itu sendiri. Atau dalam hal ini saya akan mengganti Higgs dengan DEF, karena kajian DEF yang akan membawa kita ke kesimpulan akhir dari tulisan ini. Dan mulai dari sini saya juga akan memasukkan deduksi saya dari apa yang telah saya pelajari.

DEF yang terdiri dari Knowon+Graviton adalah berupa medan atau field (sama dengan istilah Higgs field). Medan inilah yang memberikan massa pada materi. Bayangkan sebuah lautan. Jika ada benda di atas air, semakin berat, permukaan benda tersebut akan masuk lebih dalam ke air dibandingkan dengan benda yang lebih ringan. Benda yang lebih berat akan lebih sulit bergerak ketimbang benda yang lebih ringan. Interaksi antar benda dengan air ini serupa dengan interaksi materi dengan DEF. Massa suatu obyek ditentukan oleh sebanyak apa partikel pada obyek tersebut berinteraksi dengan DEF.

DEF memberi massa pada semua pertikel ber-string terbuka. DEF sendiri bersifat IST yaitu ia terlepas dari pengaruh ruang dan waktu. DEF berinteraksi secara entanglement. Jika anda cukup familiar dengan istilah ini, interaksinya tidak dipengaruhi jarak dan waktu. Satu Knowon berinteraksi dengan Knowon lainnya walaupun terpisah oleh jarak yang sangat jauh, dikarenakan oleh sifatnya yang IST ini.

DEF mempengaruhi alam ini dengan sifatnya yang psychosomatic - Hasil dari sesuatu dapat dirasakan/nyata karena sesuatu itu ada. Bagaikan anda terkena sakit pada tubuh anda bukan karena sebab fisik lainnya, melainkan karena pikiran anda sendiri (psycho). Begitu kira-kira DEF berperan pada alam ini. Contoh nyata dari implikasi DEF pada alam ini selain memberikan massa adalah mengembangnya alam semesta. DEF inilah Dark Energy yang diyakini ada oleh para ilmuwan. Dark Energy dan Dark Matter yang memenuhi 75% alam ini tidak bisa diketahui struktur internalnya - tidak dapat diketahui terbuat dari apa Dark Matter dan Dark Energy ini, tapi pengaruhnya nyata bagi alam semesta - yaitu membuat alam semesta ini mengembang. Inilah sifat yang disebut psychosomatic.


Fabrics of the Cosmos

DR. MD Santo juga mengajukan modifikasi dari E=mc^2 dengan melibatkan Knowon, menjadi E=kmc^2. Keterlibatan knowon (k) sebagai forsa kelima adalah perlu, yang menjadikan pembentuk alam semesta ini (fabrics of the cosmos) ada tiga, yaitu Energi, Materi, dan Nature Knowledge, yang selama ini diyakini hanya ada dua; Energi dan Materi saja.

k adalah sebuah nilai yang dihasilkan dari keberadaan knowon, mewakili Nature Knowledge yang mengokestrai kedua fabric lainnya; Energi dan Materi. Nature Knowledge bersifat IST sedangkan Energi dan Materi bersifat Dependent to Space-Time (DST) - bergantung pada Ruang-Waktu.


Knowledge dan Kesadaran (Consciousness)

"Kesadaran" (Consciousness) adalah atribut dari Knowledge yang dihasilkan oleh perangkat Knowledge itu sendiri, yaitu seluruh alam semesta ini dan terutama manusia - makhluk dengan kompleksitas sangat tinggi - sebagai pusat kesadaran. Kesadaran inipun merupakan faktor yang dapat diukur, yang disebutkan sebagai Consciousness Element Factor (CEF).

Ada 3 tingkat kesadaran (CEF); Knowledge with Lower Consciousness (KLC), Knowledge with Medium Consciousness (KMC), dan Knowledge with Higher Consciousness (KHC).

Nilai k (Knowledge Value, KV) pada konstanta k yang sudah disinggung di atas, berkisar antara 10^-38 (skala Planck) hingga 9.0. 

  • Nilai k = 0; adalah plane of DEF.
  • Nilai k = 10^-38 CEF; adalah ranah quantum, dan berlaku untuk pengaruh DEF pada alam.
  • Nilai k < 1.0 CEF; adalah ranah fisik.
  • Nilai k < 1.0 - 4.0 CEF adalah ranah biological.
  • Nilai k = 1.0 < 3.0 CEF berlaku untuk KLC
  • Nilai k = 3.0 < 5.0 CEF berlaku untuk KMC
  • Nilai k = 5.0 - 9.0 CEF berlaku untuk KHC
  • Nilai k = > 9.0 - infinite CEF; berlaku untuk ranah beyond human - The Universe in Cosmic scales.

Knowledge dan Wisdom

Adalah sangat wajar bila anda harus mengulang membaca tulisan di atas dari awal hingga beberapa kali. Saya sendiri masih harus belajar banyak dan mungkin terlalu berani menulisakannya dengan modal pengetahuan yang terbatas ini. Betapa banyak informasi yang saya terima dalam waktu relatif singkat. Memahami suatu pengetahuan adalah dengan mengkonsumsinya secara perlahan. Gelas yang sudah penuh dengan air, maka air berikutnya pasti akan tumpah. Memahami pengetahuan ini, anda harus menjaga agar gelas tidak tumpah. Dan setiap pengetahuan baru yang masuk akan memperbesar ukuran gelas anda. Maka, "Baca"-lah.

Jika anda memahami baik-baik tulisan saya di atas yang merupakan ringkasan dari banyak sumber, maka anda akan mulai melihat suatu. Sebuah "pencerahan", cahaya yang menerangi jalan gelap di depan kita. Bagaikan telah diteranginya di hadapan, dan kita perlahan-lahan mulai melihat jembatan di atas jurang di depan kita yang tadinya tidak tampak. Perlahan-lahan pun kita memulai melangkah setapak demi setapak. Jembatan inilah yang menjadi puncak pencarian manusia. Inilah titian menuju kebenaran hakiki. Bukan doktrin atau ajaran semata, melainkan melalui logika.

Lihatlah pada skala nilai k di atas. Jika anda membacanya dari atas ke bawah, maka anda menggunakan metode D-I-K-W (Data - Information - Knowledge - Wisdom). Sekarang saya mengajak anda membacanya dari bawah ke atas (Inverted Paradigm Method), maka anda akan menggunakan metode W-K-I-D (Wisdom - Knowledge - Information - Data). Dan metode WKID inilah yang benar. Inilah prinsip Nature Knowledge Theory (NKT). 

Alam semesta adalah beyond human. Alam semesta memiliki Factor Kesadaran (CEF) tertinggi sampai tak terhingga. Di sana terdapat Knowledge tertinggi. Aidan Randleconde, ilmuwan dari CERN menyebutkan, "The Universe knows something we don't. And it acts on cosmic scales."

Alam adalah sebuah kesadaran.
Kesadaran adalah atribut dari knowledge.
Knowledge bersifat IST.
Dengan sifatnya yang IST itu maka ia eksis secara entanglement.
Dengan sifat dan eksitensinya yang seperti itu, maka ia eksis dalam kesatuan.
Maka, alam adalah hasil dari sebuah Wisdom.


Renungan 2

Entah bagaimana saya bisa menjelaskan dengan kata-kata di sini. Entah berapa lama saya sudah merenungkan semua ini. Bahkan, butuh satu tahun bagi saya untuk menuliskan "Cosmic Religion".

Jika anda telah menonton video wawancara dengan llewellyn vaughan-lee di dalam tulisan saya Cosmic Religion, maka anda akan menemui pernyataan; jika anda bermeditasi pada tingkat terdalam (samadhi), maka anda akan berada di sebuah plane. Hanya Knowledge yang eksis di sana. Jika anda mencapai plane ini, maka anda akan tahu segalanya. Anda akan tahu apa yang deketahui oleh Tuhan. Dan pengetahuan ini bersifat Independent to Space-Time. Anda tahu waktu lalu, waktu depan, pada segala ruang. Ini adalah fakta. Jika anda mengarungi lautan spiritual itu, maka anda tahu bahwa saya benar.

Saya akan mengajak anda berpikir. Ini adalah sebuah deduksi. Bagaimana dengan "Wisdom"? Apa itu? dan jika diterapkan dalam skala CEF, berapakah nilai k -nya? Saya akan menjawab; Wisdom adalah k dengan nilai tak terukur. Ia adalah sebuah "Kehendak" yang manifestasinya adalah Knowledge itu sendiri. Dengan begitu, Wisdom adalah Tuhan. Tuhan berkehendak maka jadilah segalanya.


Space-Time is an Illusion

DR. MD Santo berkata, Space-Time adalah sebuah ilusi. Saya setuju. Karena memang alam ini adalah semu, fana, maya, tidak nyata. Alam ini adalah sebuah proyeksi atau manifestasi dari Satu Entity; Tuhan. Hanya ada Satu Zat. Satu Realita. Satu Realita yang hakiki. Tuhan.
Tunggu dulu, pernyataan ini seperti doktrin! Bagaimana saya bisa sampai meyakini bahwa ruang dan waktu adalah ilusi? Dan bagaimana saya sampai berani menyalahi komitmen saya sendiri bahwa saya tidak bisa menerima doktrin, apalagi menyampaikan kepada anda doktrin seperti ini? Apakah ada penjelasan yang lebih baik?

Tentu saya akan berusaha semampu saya dan sebaik mungkin untuk menjelaskannya kepada anda, dan bukan doktrin semata. Jika anda percaya Tidak ada Tuhan selain Tuhan, dan hanya ada Satu Tuhan, dan anda sepaham dengan saya bahwa Tuhan adalah sebuah Medium (maafkan saya harus memilih kata 'medium', karena tidak ada kata lain yang cocok untuk menyampaikan maksud saya. Dan untuk menjelaskan 'medium' ini, saya anjurkan anda membaca artikel saya sebelumnya, "Cosmic Religion"), maka semua ciptaan Tuhan, walaupun cukup nyata/real bagi kita, tidak mungkin berada sejajar dengan Penciptanya. Alam yang real bagi kita hanya real di semesta ini dan hanya dirasakan oleh makhluk yang ada di dalamnya. Alam ini dan semua isinya termasuk manusia berada di dalam sebuah konstruksi imajiner scientific, yang dihasilkan oleh (manifestasi dari) sebuah kehendak. Sebuah Wisdom.

Alam ini, yang terkonstruksi dari Space-Time dengan bahan dasar Materi dan Energi, adalah ilusi. Realita yang hakiki adalah Tuhan itu sendiri. God is the ultimate of Reality.


Renungan 3

Apakah sudah saatnya Wisdom itu dikaitkan langsung dengan atau sebagai Tuhan? Apakah tidak terlalu dini? Hal ini terdenger sangat tidak scientific. Apakah memang sudah saatnya pemisahan antara science dan Tuhan ditentukan di sini?

Semua manifestasi Tuhan adalah scientific. Satu-satunya yang tidak scientific adalah Tuhan itu sendiri. Jadi, YA, inilah batasan akhir science. Science sudah pada pencapaiannya yang tertinggi, dimana science menemukan sebentuk Wisdom yang menjadi penyebab segala sesuatu di alam ini.

Lalu mengapa dikatakan bahwa alam tidak berawal dan tidak berakhir? Jawabannya adalah karena Tuhan tidak berawal dan tidak berakhir. Tapi alam ini juga memiliki awal dan akhir - yaitu ketika Tuhan menghendakinya untuk berakhir.
Bagaikan anda yang sedang melamun, anda bisa mematikan lamunan anda kapan saja bila anda menghendakinya, tanpa anda sendiri harus mati. Begitulah kira-kira analogi paling sederhana untuk menjelaskannya.
Alam ini adalah manifestasi dari Zat yang Maha Satu. Alam ini, dari mulai fisik, hingga biologis, termasuk manusia, exist pada sebuah Zat, yaitu Tuhan. God is the ultimate Wisdom in which we all exist.


The Knowledge

Seperti seorang penyidik, yang secara perlahan mulai menemukan pentunjuk dari berbagai sumber informasi yang didapatnya, mengarahkannya pada kebenaran yang dicari. Ada informasi yang bersifat mengecoh, dan ada kalanya ia harus kembali ke titik awal. Namun seperti prinsip Occam's Razor; bila cukup banyak sumber yang memberikan informasi serupa, maka sangat besar kemungkinannya bahwa informasi itu adalah benar.

"The Knowledge", dalam sanskrit; "Veda", adalah hasil dari sebuah Wisdom, Brahman, Tuhan, Allah, Dia Zat Yang Maha SATU dengan banyak nama. Oleh karena itu manusia haruslah mem-"baca", knowledge yang ada di alam ini. Karena knowledge berasal dari Tuhan. Dan tidak hanya di Ajaran Sufi (Islam) dan Hindu, saya sangat menyakini bahwa hal serupa juga ada di ajaran lainnya. Walaupun saya tidak akan sempat mendalaminya satu-per-satu, namun sudah cukup banyak petunjuk-petunjuk yang seharusnya kita tanggapi dan pikirkan secara serius. Bila anda merasa kurang, maka anda bebas mengkajinya terus menerus dan kita bisa berdiskusi bebas, hingga tutup usia kita di alam fana ini.

Begitu banyak pertanyaan yang ingin dijawab. Jawaban yang ditemukan seringnya merupakan pertanyaan baru. Banyak misteri yang belum terungkap, setidaknya science belum bisa menjamahnya. Manusia hanya bisa mengandalkan alam pikirannya dan petunjuk-petunjuk bijak manusia terdahulu, para pemikir, dan para Nabi beserta ajaran mereka, untuk menerobos masuk dan menjamah apa yang mampu dijamahnya. Kepada siapa lagi manusia harus bertanya? Hanya kepada pemilik alam ini. Kepada Sang Pencipta semua pertanyaan akan terjawab. Dan manusia harus menemukan caranya. Dan inilah motivasi terbesar untuk menjalani perjalanan fisik maupuan spiritual ini.

Termasuk menjawab satu misteri lain yang cukup menggelitik rasa ingin tahu saya, dengan bermodalkan pengetahuan ini, bisakah kita menjelaskan asal-usul manusia? Apakah ini berarti manusia tidak berkembang melalui proses DIKW melainkan WKID? Bagaimana menjelaskannya? Sejak kapan makhluk dengan tingkat kesadaran tinggi ini ada di alam ini? Apakah sebenarnya dulu manusia adalah makhluk spiritual murni yang kemudian devolve menjadi makhluk berjasad fisik seperti sekarang?




======

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pembaca blog saya. Semoga apa yang saya tulis di sini bermanfaat.
Saya ucapkan maaf bila tulisan saya masih jauh dari sempurna dan tidak berkenan di hati para pembaca. Saya harap seiring berjalannya waktu, saya mampu memperbaikinya.



ER

La illaha illallah.
There is no God but God
OM  Shanti  Shanti  Shanti

17 komentar:

hadi muhtadi mengatakan...

Luar biasa..

Anonim mengatakan...

bisa jelasin tentang waktu ga? ilusi dan ada di saat yang bersamaan yaitu searang. masih belum mengerti saya.

Erianto Rachman mengatakan...

Artikel-artikel saya saling berhubungan satu sama lain. Artikel baru selalu merupakan kelanjutan artikel sebelumnya. Tidak ada artikel yang berdiri sendiri.
Jadi saya sangat menyarankan agar anda membaca artikel-artikel saya sebelumnya.

Pertanyaan anda "mengenai waktu disebut ilusi" memerlukan penjabaran yang sangat panjang untuk menjawabnya. Dam bila anda membaca seua artikel saya maka anda akan menemukan jawabannya di sana.

Ruang dan waktu adalah ilusi. Bukan realita yang hakiki. Realita yang hakiki hanya Tuhan.

mobilan koleksiku mengatakan...

Luar biasa !!!!, Saya sangat berterima kasih dengan tulisan-tulisan anda. Sejak dua tahun lalu saya menemukan tulisan anda dan mengikutinya sampai sekarang. Telah membuka pikiran saya dan memuaskan dahaga saya untuk memahami TUHAN, karena saya sama dengan anda yang tidak bisa menerima doktrin/dogma begitu saja. Saya sekarang bisa membayangkan betapa berkuasanya TUHAN YME. Itu membuat iman saya semakin tebal. Terima kasih sekali lagi. Saya salut dan angkat topi kepada anda yang masih bisa meluangkan waktu untuk mengkaji hal2 yang beyond/frontier seperti ini. Saya tunggu tulisan2 berikutnya ....

mobilan koleksiku mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Erianto Rachman mengatakan...

@mobilan koleksiku:

Terima kasih juga kepada anda yang telah sudi membaca tulisan saya dan setia menanti tulisan-tulisan saya hingga kini. Syukurlah kalau apa yang saya ulas membawa manfaat kepada anda.

Tuhan ada di dalam diri kita. Karena kita wujud pada-Nya. inilah kebenaran yang hakiki. This is the ultimate truth.

Lalu ada apa lagi setelah ini?

Pengembaraan saya dalam mencari kebenaran yang hakiki harus berlanjut pada ranah baru, yaitu spiritual. Hanya ke sanalah perjalanan kita bisa berlanjut. Semoga anda paham dan setuju dengan alasannya. Dan ini seharusnya disambut dengan penuh harapan. Karena science sudah membawa kita sejauh ini untuk menghantarkan kita ke kebenaran yang hakiki. Sudah saatnya kita berjalan pada tapak kebenaran hakiki itu.
This is the continuity of science.
The continuity of Science is Spiritualism.

Apa yang akan kita dapat di sana?
Mari kita baca bersama-sama apa yang akan saya tulis berikutnya.

Anonim mengatakan...

salam...
pak eri..
dlm salah satu tulisan anda, anda pernah mengatakan bahwa eistein sesungguhnya tau bahwa ada satu kesadaran yang mengatur alam ini walaupun dia tidak mengkuantitaskan suatu kesadaran tersebut.
baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa einstein "ber-Tuhan tanpa agama" dengan artian bahwa tuhan yang ia maksud adalah alam semesta yang memilii keteraturan itu sendiri. jika demikian, apakah ini sejalan dengan yg selama ini anda ulas jika manusia dan alam adalah satu. bahwa tuhan tidak bisa kita personifikasikan. There's no god but god yang bersifat Independent of space time.
lalu apakah demikian dengan yang agama islam maksud??
jika kita mengartikan agama sebatas 'kristen','hindu', budha', islam' dsb. apakah sesempit itu maknanya?
apakah kata "ad-diin" dlm al-qur'an benar-benar bermakna agama jika yang kita maksdukan adalah "ajaran untuk mengesakan tuhan'?
lalu seperti apakah "Tuhan" yg agama islam maksdukan jika kita mengartikan agama sebatas itu? kristen dengan tuhannya patung yesus, budha dengan patungnya budha, Apakah 'Tuhan" dlm islam "dalam makna agama" juga bisa kita personifikasikan?
jika manusia dengan pendekataanya dengan alam tanpa embel-embel agama saja telah mampu untuk mengenali tuhannya. lalu apa fungsi agama sebenarnya? apa makna agama sesungguhnya?

maafkan bahasa saya yg terlalu frontal, kasar, terlalu berani. sungguh ini hanyalah sekelumit pemikiran dari seorang yg pengetahuannya tidak seberapa. mohon anda bisa meluruskannya. terimakasih

Erianto Rachman mengatakan...

Halo,
Terima kasih telah membaca tulisan saya.

Manusia hidup di zaman materialisme dimana otak manusia didominiasi oleh otak kiri yang bersifat masculine. Artinya manusia mengutamakan logika, rasional, doktrin, aturan, fisik. Otak manusia secara naluri menolak segala sesuatu yang bersifat abstrak dan spiritual. Manusia akan kurang menerima segala sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh atau tidak bisa dibayangkan. Manusia akan selalu menuntut per-wujud-an atas segala sesuatu, termasuk TUHAN.

Oleh karena sifat maunsia yang seperti itu, maka agama di bumi ini membawakan ajarannya dalam dua bentuk yang saling berdampingan. Bentuk pertama adalah bentuk yang langsung dapat applicable atau dapat diaplikasikan oleh manusia, misalnya mengenai wujud Tuhan, posisi Tuhan, sifat-sifat Tuhan yang digambarkan atau diberikan nama-nama yang banyak. Juga bagaimana cara menyembah Tuhan, bahkan sampai kepada bagaimana postur tubuh saat berdoa – tangan terbuka menengadah ke atas (Islam), atau terkepal (Kristen), atau tertangkup (Buddha, Hindu) lalu memfokus-kan pikiran kepada permintaan di dalam doa kita tersebut. Manusia menemukan kesulitan dengan tidak membayangkan atau mewujudkan Tuhannya. Bagi mereka, ini tidak masuk akal. Dengan demikian manusia akan selalu mempersonafikasikan Tuhan ke dalam bentuk/wujud yang dapat mereka terima. Mereka juga mengharapkan doktrin. Organized, Ajaran adalah perintah yang harus dijalankan. Terdapat sanksi. Bila baik maka akan begini, bila tidak baik, maka akan begitu. Manusia selalu mengharapkan reward dan punishment. Hadiah (pahala) dan hukuman (dosa). Surga dan Neraka. Hanya dengan cara seperti ini mereka mau menjalankan ajaran agama itu.
Salahkah ini? Tidak.
Ajaran ini diajarkan kepada umat oleh para guru agama. Dan para umat yang hanya mampu menerima ajaran dalam bentuk ini kita istilahkan saja: Umat-1

Bentuk kedua adalah bentuk yang tidak langsung terlihat. Pesan tersembunyi ini hanya dapat diketahui oleh mereka yang jeli dan mempelajari ajaran agama lebih dalam. Di situ ada sebentuk kebenaran. Kebenaran yang hakiki. Ajaran ini diajarkan kepada umat oleh para mereka yang ‘tau’.
Dan para umat yang sudah mampu merima bentuk ajaran ini kita istilahkan saja Umat-2

Untuk agama Islam sendiri, terjemahan Alquran diperuntukkan bagi Umat-1. Coba anda beli semua cetakan terjemahan Al-quran yang ada di toko-toko buku.
Untuk saya sendiri, saya tidak menerima begitu saja terjemahan-terjemahan itu. Maka saya pun melakukan research ke terjemahan dalam bahasa lain, seperti English. Dan ternyata terjemahan dari kedua bahasa itu berbeda. Sekali lagi, bila anda adalah Umat-1, maka terjemahan apa pun cukup. Sedangkan bila anda Umat-2 maka semua itu tidak cukup bahkan terlihat aneh dan banyak mengundang pertanyaan.
Begitu pula dengan tafsir Alquran.

Untuk ajaran Hindu, juga begitu, tapi ada perbedaan. Oleh karena ajaran Hindu sudah ada jauh lebih tua dari ajaran manapun di bumi ini, dimana saya menduga kuat dimasa itu manusia belum terlalu terpuruk ke era materialistis seperti sekarang, dimana otak kanaan mereka masih sedikit lebih aktif daripada manusia sekarang, maka Ajaran Hindu diperkenalkan pertama kali dengan murni dalam bentuk spiritual murni. Tidak ada kiasan, bentukan, doktrin, seperti pada ajaran agama lain yang lebih muda. Adapun demikian, manusia berubah seiring waktu. Manusia menjadi materialistis, sehingga ajaran murni spiritual tersebut dirubah oleh manusia agar lebih “cocok” dan applicable. Contoh jelas adalah pada penerapan Kasta (cast) yang ada dalam kitab Veda. Pada masa sekarang ini pengkastaan sama dengan hirarki, namun yang sesunggunya bukan demikian. Orang lebih senang menerima sesuatu yang hirarkis, konkrit, tanpa mengecek kebenarannya.
Bagaimana dengan Dewa? Hal ini perlu dibahas terpisah.

Erianto Rachman mengatakan...

Untuk ajaran agama Kristen, Mengenai patung Tuhan Yesus. Saya sempat mengadakan diskusi panjang dengan seorang sahabat yang beragama Kristen. Sungguh panjang jika dicertiakan di sini. Namun singkatnya adalah. Ketika nabi Isa / Yesus disalib hidup-hidup, ia berdoa pada Tuhan, “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu”. Hal ini sangat luar-biasa. Bagaimana seorang yang sedang disiksa hidup-hidup, tangan-kaki dipaku dan digantung, darah mengalir, kemudian perut ditusuk oleh tombak masih bisa berdoa memohon ampun untuk yang menyiksanya? Tidak ada manusia yang mampu seperti itu. Hanya Tuhan yang mampu seperti itu. Ini adalah wujud cinta kasih Tuhan. Sejak itu Yesus menjadi symbol suci untuk suatu bentuk Cinta Kasih Tuhan yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Jadi ia pun dijadikan symbol di manapun. Sampai kedalam bentuk kalung yang dipakai banyak orang. Hal ini sangat bisa dimengerti. Saya menghormati mereka sepenuh hati karena Nabi Isa, Tuhan Yesus adalah Nabi yang merupakan symbol Cinta Kasih terbesar.

Bagaimana dengan Nabi Muhammad?
Ia juga sama uniknya dengan Nabi Isa. Nabi Muhammad membawakan ajaran yang murni spiritual ke pada umat yang bertipe Umat-1. Islam datang pada zaman terakhir dimana manusia berada dalam siklus alam yang terbawah, terpuruk, Iron-Age atau Dark Age. Otak manusia pada zaman ini sudah 100% masculine. Materialistis, logis, memuja doktrin dan aturan. Hanya ada kanan dan kiri, baik dan buruk. Tegas. Sempit.
Bagaimana ia menyampaikan ajaran suci ini kepada umat semacam itu? Dan dalam waktu yang sangat singkat? Menurut saya pribadi, dialah sang Maha Guru. Dialah Nabi besar dengan tugas tersulit Tidak ada yang manusia yang mampu seperti itu. Hanya Tuhan yang mampu!

Jadi, ke-SATU-an yang saya bicarakan di tulisan-tulisan saya harus dipahami dengan menjadi Umat-2. Anda harus meyibak tabir tebal yang menutupi anda. Tabir itu adalah tabir materialistis, tabir doktrin. Anda harus mulai membuka hati. Mulai melihat, mendengar, merasakan, dengan hati. Di sana ada Kesadaran Tuhan (God Consciousness) di sana ada Cinta Kasih Tuhan, sama dengan seperti yang ditemukan/dirasakan oleh Nabi Isa A.S. / Yesus. Dan di sana ada KNOWLEDGE Tuhan, sama dengan yang diketahui oleh Nabi Muhammad SAW.
Anda harus berdamai dengan pikiran anda yang didominasi oleh masculine, penuh dengan ego. Anda harus berdamai dengan hati anda karena di sana ada Tuhan, dan damai dengan sluruh alam semesta (Shanti Shanti Shanti).

Jika anda sudah ‘tau’ dan siap, maka anda akan melihat bahwa semua agama adalah sama. Yang ada hanya Kamu dan Tuhan. Yang ada hanya TUHAN. Dan tidak ada TUHAN selain TUHAN. There is no GOD but GOD. Hanya ada Allah. OM.

Tidak ada benar, tidak ada salah. Semua natural. Semua mematuhi dan berjalan sesuai hukun Tuhan.

Tuhan tidak di sana, tidak di sini, di atas, di bawah, Tuhan ada dimana-mana Tuhan adalah SATU. Dan kita semua beserta seluruh alam semesta eksis pada-Nya. Inilah kebenaran yang hakiki. Tidak semua manusia langsung mau/mampu menerima ini.

Ad-din bermakna = Faith (keyakinan).
Menelaah ajaran agama dari kata-per-kata seperti ini adalah ciri khas manusia materistis / logis. Bahasa adalah salah satu tabir yang menutup anda dalam menjadi Umat-2.
Tidak ada satu Bahasa pun di dunia ini yang mampu dengan sempurna menjelaskan kebenaran yang Hakiki. Tuhan.
Jadi, janganlah bahasa menjadi halangan. hal itu tidak relevan. Jika ingin memahami Tuhan, kebenaran yang Hakiki, anda harus menggunakan bahasa Tuhan. Untuk mengerti Tuhan, gunakan bahasa Tuhan.
Bacalah tulisan saya yang berjudul "New Science: Alchemy". Di sana anda akan tau apa itu bahasa Tuhan. Dan jika anda sudah paham, siap, anda akan mengerti sepenuhnya.

Salam Cinta Kasih, dan damai selalu.

Anonim mengatakan...

Terjelaskan dengan baik pak. Tentunya anda telah melalui perjalanan yg cukup panjang untuk mendapat penjelasan yg luar biasa tentang tuhan. Semogasaya juga mampu melakukannya.
Terimakasih atas penjelasannya. Salam sejahtera :-D

Erianto Rachman mengatakan...

You are most welcome.
:-)

Anonim mengatakan...

Salam sejahtera..
Saya salah satu pengikut blog anda yg luar biasa ini..
Maaf tidak mencantumkan identitas saya. Seperti yg amda katakan bahwa identitas material tidaklah begitu penting. Yg terpenting adalah bagaimana hati saya bisa terpaut dengan blog anda, dengan hati dan pemikiran anda yg tertuang dlm tulisan2 ini.

Menyambung dari komenyar anda diatas, ada yg ingin saya tanyakan
1. apakah ritual shalat yg diperintahkan kepada nabi adalah bentuk perintah ajaran yg paling sesuai dikala itu? dimana umat manusia lebih menggunakan sifat masculinenya untuk berfikir. jika demikian apakah bisa kita katakan bahwa ajaran sebelum nabi muhammad seperti nabi daud, isa masih bisa kita kategorikan sebagai spiritual murni?

2. saya pemasaran bagaimana anda mengenalkan pemdidikan agama kepada anak anda dengan pemikiran anda yg sekarang ini. melalui doktrin atau mengajaknya untuk berfikir seperti anda??

Erianto Rachman mengatakan...

Salam,
Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada anda yang telah mengikuti blog saya.

1.
Ya, ritual shalat yang diperintahkan kepada kita adalah bentuk yang sesuai untuk manusia zaman itu hingga sekarang (karena kita masih berada di zaman yang sama. Dengan sifat masculine yang dominan). Dan Ya. Ajaran sebelum Islam adalah ajaran yang lebih terbuka spiritualnya. Namun saya tidak dapat mengatakan semurni apa.
Jika anda membaca tulisan saya yang berjudul “Books Of Origin” Part 1 dan Part serta menonton video “The Pyramic Code” yang saya tampilkan di situ, maka anda bisa menyimpulkan kapan ajaran spiritual murni pertama kali muncul.

2.
Seperti yang dikatakan Sufi Master, Llewellyn Vaughan-Lee dalam sebuah wawancara (Wawancara ini bisa anda tonton di dalam tulisan saya yang berjudul “Cosmic Religion”) ia mengatakan bahwa hanya ada satu yang harus kita lakukan kepada anak kita, yaitu “To love them”. Mencintai mereka. Hanya itu yang harus dilakukan. Karena ada Tuhan di dalam diri kita. Dan seperti Nabi Isa dan Muhammad yang mencintai umatnya, sampaikan pengetahuan dengan cinta kasih.

Saya mencintai anak saya dari “hati”. Saya juga mendoktrin anak saya seperti Nabi Muhammad mendoktrin umatnya. Namun saya juga memperkenalkan pengetahuan lain seperti Nabi Muhammad mengajarkan kepada umatnya.

Anak kita hidup di zaman dark age. Zaman materialistis dan doktrin. Tidak bisa dihindari bahwa anak mendapatkan doktrin di sekolahnya. Dan jika kita tidak pintar bersikap, anak akan bingung. Maka saya membiarkan anak saya berlaku seperti ajaran sekolah, namun juga perlu dibuka hati sejak dini.
Ingat, anak kita lahir dengan masculine feminine (walaupun feminine-nya tidak terlalu kuat), maka dari yang masculine ia mendambakan permainan fisik, keteraturan, dan logika. Sedangkan dari feminine, ia mendambakan cinta, seni dan ketercurahan imajinasi. Kita harus memahami kebutuhan ini dan memberikannya.

Saya melakukan ibadah bersama anak, seperti yang diajarkan di sekolahnya. Akan tetapi anak saya tau dan mengerti bahwa saya juga melakukan aktivitas spiritual (meditasi) secara rutin diwaktu-waktu tertentu. Saya berdoa dengan cara yang tidak ia temukan di sekolah. Saya memejamkan mata dan tertunduk hormat ketika saya melewati masjid, pura, wihara, dan gereja. Saya bersahabat erat dengan mereka yang sama maupun beda agama. Saya mengajarkan anak saya untuk turut berhagia (me-rasa-kan kebahagiaan) jika tetangga sebelah rumah sedang berbahagia merayakan natal. Anak saya bertanya mengapa harus ber-laku seperti itu? Dan saya selalu terbuka menjelaskannya kepada anak saya, bahwa yang terpenting dari semua ajaran di dunia ini adalah kebahagiaan – hati yang bahagia. Simple, jika orang memiliki hati yang berbahagia, maka ia akan berperilaku baik kepada sesama. Jadi, semakin banyak orang bebahagia, semakin baik. Agama tidak memisahkan kita dari yang lainnya. Salah-benar, kaya-miskin, tidak relevan. Saya juga memperkenalkan anak saya untuk menjadi dermawan sejak dini. Dengan aktif memberi/berdonasi maka kita membuat orang lain berbahagia. Baik di lingkup kecil (lokal) maupun internasional. Kita membagi kebahagiaan dengan orang lain. Lagi-lagi, tidaklah penting apa agama orang yang kita bantu. Semakin banyak orang yang tersentuh hatinya karena bantuan kita, maka mereka akan bahagia. Dan bahagia menghasilan kebaikan di dunia ini.

Sekarang anak saya berumur 10 tahun. Apa yang saya ajarkan padanya cukup sampai di situ dulu. Akan ada saatnya ia saya ajarkan lebih banyak.
Jadi, ya. Saya pasti akan membawa dia untuk kebenaran yang hakiki. Saya akan bukakan pintu, namun perjalanan spiritual adalah perjalanan individu. Pada saatnya nanti dia harus mengarungi lautan luas itu sendiri.

Anak adalah cinta.
Cinta adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah kebaikan.
Dan kebaikan menumbuhkan cinta.
Anak akan mengerti cinta dan kebenaran yang hakiki.

Anonim mengatakan...

jadi bisa saya katakan bahwa jika dlm umat kristiani, hondu tidak ada ritual shalat seperti dlm islam adalah karena shalat itu sendiri mungki. tidak relevan jika diterapkan pada masa itu.

seperti itu?

Erianto Rachman mengatakan...

Ya. kemungkinannya begitu menurut saya.

rIzQ Kurniawan mengatakan...

Hallo ERIANTO MUNGKIN KITA BISA MENGOBROL SECARA PRIBADI MENGENAI PEMIKIRAN ANDA. SAYA BISA MENGEBANGKAN IDE SAYA. SUDAH LAMA SAYA MENDISKUSIKAN PADA DIRI SAYA TENTANG HAL INI. AKAN LEBIH MENARIK JIKA SAYA TAMPILKAN SEBUAH SKETSA NANTI. SAYA SANGAT MENYUKAI APA YANG ANDA PIKIRKAN, SAMA HALNYA SEPERTI DIRI SAYA. NAMUN PEMIKIRAN SAYA LEBIH ELEGAN DARI YANG ANDA KIRA, MUNGKIN KITA BISA MENJADI TEMAN YANG AKRAB. SAYA HARAP ANDA MEMBALAS PESAN INI.

Erianto Rachman mengatakan...

@rizQ Kurniawan:
Silahkan menghubungi saya probadi jika ingin berdiskusi lebih jauh. Terima kasih.