Selasa, 18 Oktober 2016

A Sufi's Diaries: Book 7




Dia yang tak bernama, Dia yang sendiri. Dia yang merindu.
Jujurlah pada cinta. Cinta tak berbelenggu.
Hati yang terbuka, bebas tanpa batas.


Diary 43:
The Nameless
Yang Tak Bernama


Keterpisahan atau menjauhnya manusia dengan Tuhan terjadi ketika manusia mempersonifikasikan Tuhan.

Manusia tidak mampu menerima Tuhan yang tanpa wujud, sehingga manusia mewujudkan Tuhan sesuai kemampuan nalarnya. Manusia menurunkan Tuhan ke tempat yang sama rendahnya dengan mereka.

Manusia memisahkan diri dengan Tuhan adalah ketika manusia memberikan nama kepada Tuhan.

Saya banyak menulis mengenai ini dan mereka berkata bahwa apa yg saya tulis adalah ilmu Tasawuf.

Saya berkata, "Saat kamu memberikan nama pada tulisanku, saat itulah kau menjauhkanku darimu. Dan selamanya kau tidak akan memahami tulisanku." 

Begitupula mereka yang kerap menegur saya bila saya mempelajari tafsir dari kitab suci, "Janganlah mencoba menafsir sendiri, kalau tidak sesuai nanti akan 'tersesat' dan menyesatkan orang lain."
Lalu saya disuruh mengaji. :-)

Saat mereka menamakan usaha dalam memahami kitab suci sebagai "sesat", maka mereka tidak akan pernah memahami kitab suci mereka itu selain dari apa yang dipaksakan kepada mereka dari orang lain.

Tuhan itu SATU maka pengetahuan alam ini harus dipandang dalam keSATUan. Kemanunggalan. Jangan mengkotak-kotakkan Tuhan. Tidak ada satu pun pengetahuan yang bukan bagian dari Tuhan. Butuh pikiran terbuka dan keberanian melakukannya. Sehingga anda tidak hanya mengetahui tetapi juga paham dan mengakuinya.

Kepahaman akan pengetahuan yang SATU ini saya sebut "The Divine Knowing".
Pencapaian tertinggi ilmu adalah memahami ilmu Tuhan dalam kemanunggalanNya / singular.

Saat kau menamakan buah itu, kau tidak akan pernah tahu rasanya. Jangan menamakan buah itu. Melainkan pahami rasanya. Rasakan buah tanpa nama itu.

Inilah kepahaman illahi.
Beginilah kita dapat mendekatkan kembali dengan Tuhan. Beginilah bagaimana kita sadar akan Tuhan yang Hakiki.

"Truth is not democratic."
Kebenaran yang hakiki itu absolute. Bukan dari apa yang kau baca, apa yang kau terima dari orang lain, bukan dari keputusan bersama. Bukan doktrin, bukan dogma.
Kebenaran yang hakiki adalah kebenaran Tuhan.

Rasakan kebenaran hakiki itu.
Rasanya adalah seperti terhujani air sejuk dari balon air yang pecah di atas kepala kita.

Tuhan tanpa nama.
Tiada Tuhan selain Tuhan.

Salam damai.






Diary 44:
Appreciation

Penghargaan


Ya Tuhan,
kupanjatkan syukur sedalam-dalamnya atas setiap detik kehidupan yang telah kulalui.
Semuanya baik dan sesuai.

Ya Tuhan,
kupanjatkan syukur sedalam-dalamnya atas setiap jengkal langkah hidupku.
Semuanya baik dan sesuai.

Ya Tuhan,
kupanjatkan syukur sedalam-dalamnya atas setiap tarikan dan hembusan nafasku.

Ya Tuhan,
kupanjatkan syukur sedalam-dalamnya atas setiap pandangan yang ada di hadapanku. 

Ya Tuhan,
kupanjatkan syukur sedalam-dalamnya atas setiap makhluk yang Kau ciptakan.

Kau menemaniku.
Kau tunjukkan jalan yang baik dan sesuai untukku.
Kau tegur aku dalam cobaan dan kebahagiaan padaku,
kurasakan belaian kasih-Mu padaku setiap saat.

Harapanku pupus sejak ku mengenal-Mu.
Sudah kutukar semua bentuk harapanku dengan rasa syukur. 
Sudah kutukar rinduku pada dunia dengan kerinduan-Mu padaku.

Duniaku terasa sangat luas seperti luasnya cinta-Mu padaku.

Aku tenggelam di dalam lautan cinta-Mu yang tanpa tepi dan tanpa dasar. 
Kau matikan aku sebelum matiku.
Tidak ada yang lebih berarti di dalam hidup ini selain keberadaanku bersama-Mu.

Hari-hariku kau hadirkan senyuman-Mu melalui orang yang tersenyum padaku.
Kau pun terseyum pada mereka melalui senyumanku.

Pipimu yang halus, rambutmu yang menghiasi mahkotamu,
matamu yang indah dan berbinar...

Cantiknya dirimu.
Agungnya dirimu.
Bahagianya diriku berada bersamamu.
Aku bersyukur sekarang dan selalu.











Diary 45:
The Final Question

Pertanyaan Terakhir

"Masalah apa pun tidak akan dapat diselesaikan pada tingkat kesadaran yang sama dengan dimana masalah itu dibuat/terjadi."

Maka kau mulai pembelajaranmu untuk naik, berharap ilham untuk menyelesaikan masalahmu. Tidak semudah yang kau bayangkan. Egomu menahanmu untuk tetap berada di bawah. Tentangan dari orang terdekat juga menahanmu untuk tidak naik.
Logikamu berubah, dari yang linear menjadi non-linear.

Tahun demi tahun kau tekuni jalan itu. Dan kau berhasil menapak naik.

Setelah dapat kau selesaikan masalahmu, kau pun memahami banyak hal baru. Kau temukan pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah kau tanyakan sebelumnya. Kau juga dihadapi masalah-masalah baru.

Kau tidak bisa turun lagi. Kau harus melanjutkan pendakianmu.

Ada sebentuk rasa yang menjagamu dari turun. Bila kau merasa low, rasa itu menyadarkanmu untuk naik kembali.

Kau pun melanjutkan. Lebih berat dari sebelumnya. Lebih banyak lagi tantangannya. Namun karena keteguhan dan keridhoanmu, kau pun naik lagi.

"Oh... kehidupan itu seperti ini." Ucapmu.

Kini kau mengetahui esensi dari hidup. Kau dapat memecahkan masalahmu dengan solusi yang ternyata sangat sederhana dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Kau paham.

Pemahaman datang bukan dari pemberitahuan, tetapi dari pengalaman. Kau bertanya, maka jawaban datang yang sesuai untukmu saat itu. Di tingkat kesadaran yang lebih tinggi, pertanyaan yang sama terjawab dengan jawaban yang berbeda. Mengapa? Karena kau lebih memahaminya dan siap menerima jawaban itu.

Siapa yang memberikan jawaban itu? Alam ini. Tuhan-lah yang memberikan jawaban itu melalui pengalamanmu.

Di tingkat ini, timbul pertanyaan baru lagi. Kau harus mendaki lagi untuk menjawabnya. Pendakian pun lebih berat dari sebelumnya. Lagi, logikamu harus disesuaikan. Logikamu sudah jauh berubah dari awal pendakianmu.

Kau menerima jawabannya dari pengalaman hebat. Tak akan ada orang yang memahami selain mereka yang sudah berada di tingkat kesadaran tinggi.

Pola pikirmu semakin sederhana namun semakin dalam memasuki ranah realita alam ini. Kau memahami rasa yang belum pernah kau rasakan sebelumnya.
Kau rasakan gelagat alam maya ini. Kau semakin memahami kebenaran dibalik kesemuan.
Tirai-tirai realita tersibak satu per satu di hadapanmu.

Rasa itu pun semakin kuat menjagamu. Rasa Cinta-kasih Tuhan. Dia menjagamu untuk selalu awas dan tetap berada di sini. Sekarang.

Kau menoleh ke belakang dan kau lihat rangkaian kejadian masa lalumu yang membentukmu sekarang. Kau melihat ke depan dan terlihat pula konstruksi hidupmu yang terangkai di hadapanmu.

"Oh, ternyata begitu mau-Mu." Ucapmu kepada-Nya. 

Lalu terjadilah percakapan ini;

"Ya, inilah rahasiaku. Adakah lagi pertanyaanmu?"

"Ya, aku ingin mengetahui sampai dimana aku mampu mendaki."

"Maka, bertanyalah! Sudah siapkah kau menerima yang lebih dari yang sudah kau capai?"

"Siapakah aku?"

"Kau adalah Aku."


Lalu diam.
Kau terdiam lama. Tidak sehari, seminggu, bulan, sampai bertahun-tahun kau terdiam. Tidak ada yang mampu membantumu memahami kenyataan ini.

Kau merasakan kesepian karena tidak ada satu pun yang mampu memahami pertanyaan ini apalagi menjawabnya.

Kau sendirian. Kesepian.
Sepi...
Sepi...

Lalu kau kembali padaNya dan bertanya,
"Aku tak sanggup memikul rasa ini. Mengapa aku merasakan sepi yang sangat menyiksa ini?"

"Karena tidak ada yang memahamimu selain Aku. Dan tidak ada yang memahamiku selain kamu. Dan kau merasakan kesendirianKu menantimu."

---------------
Manusia diciptakan berpasang-pasangan dan banyak jumlahnya agar manusia dapat memahami rasa kebersamaan dalam cinta dan kasih-Nya.

Tuhan adalah Zat yang Sendirian. MemahamiNya adalah memahami kerinduan yang paling dalam.

Jawaban dari pertanyaan terakhirmu adalah memahami Tuhan Yang Satu.








Diary 46:
The Divine Consciousness

Kesadaran illahi


Jika kau adalah makhluk hidup yang sangat kecil. Kau hidup di dalam sebuah sel. Sel adalah alam semestamu. Dan kau tidak mampu menemukan tepian alam semestamu karena alam semesta ini begitu luasnya dan kau tidak sadar akan tapal batasnya.

Lalu kau belajar. Belajar dan belajar hingga kau menemukan petunjuk bahwa alam semestamu adalah satu sel yang ada di antara tak hingga jumlah sel yang ada selain sel alam semestamu yang kau diami sekarang.

Ketakjubanmu akan kemungkinan bahwa alam semestamu adalah alam semesta parallel kemudian berubah menjadi sebuah pertanyaan, "Mengapa ada banyak sel?"

Bagaimana kau harus menjawab ini? Tidak ada satu pun ilmu sains yang kau pelajari yang mampu menawarkan jawaban padamu.
Kecuali satu, yaitu ilmu spiritual. Lalu kau menekuni ilmu itu.

Bertahun kemudian kau mulai menyadari akan adanya sebentuk kesadaran yang meliput seluruh realita. Tidak hanya di dalam alam semestamu, tetapi juga seluruh alam semesta yang ada. Bermilyar-milyar sel itu ada bukan kebetulan, tetapi ada karena tujuan tertentu. Dan keberadaan mereka dilandasi oleh Sebentuk Kesadaran.

Lalu kau bermaklumat, "Bila aku dapat memahami Kesadaran itu, maka aku dapat memahami mengapa alam ini ada."

Inilah "Kesadaran illahi."
Ada sesuatu yang mengatur semua eksistensi dari semua yang ada. Keberadaan semua itu adalah bagian dari konstruksi realita. Tanpa satu saja, maka konstruksi tidak sempurna dan realita ini tidak pernah ada.

Semua sel-sel ini adalah bagian dari Satu Kesadaran. Setiap sel adalah bagian dari struktur yang lebih besar. Kau tidak akan mengetahui bentuk struktur yang Maha Besar itu, akan tetapi kau tau Yang Maha Besar itu mengayomi realita ini dengan Kesadaran-Nya. Dan tidak ada yang diluar dari-Nya. Semua ada di dalam satu Struktur itu.

Kau takjub akan pengetahuan ini. Tidak ada seorang pun yang dapat kau ajak bicara mengenai ini. Kau sendirian karena hanya kau yang memahami.

Pembelajaranmu di ranah spiritual membawamu terus masuk ke pondasi realita ini. Kau masuk ke dalam kesadaran ilahi dan mencoba memahami lebih jauh.

Kini kau hanya sendirian. Tidak ada seorang pun yang menemanimu selain Dia. Kesendirian menjadi kesepian yang mendalam. Sangat dalam.

Lalu pada suatu hari kau tersujud menangis. Kini kau paham semuanya.
Kini kau paham mengapa dirimu ada. Kini kau paham mengapa semua ini diciptakan.

Dia Yang Maha Sendirian.
dan kau... adalah...








Diary 47:
God Does Not Exist in Africa

Tuhan Tidak Ada di Afrika


Perbincangan lucu yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Seseorang bertanya kepada saya mengenai spiritual. Perbincangan berkembang selama berjam-jam menjadi diskusi berat lalu berujung pada argumen tanpa solusi.

I agree to disagree. But he doesn't.
(Saya dapat setuju untuk tidak setuju. Tetapi dia tidak. Dia ngotot)

Saya sama sekali tidak menambah atau mengurangkan apa yang saya ketahui. Saya menyampaikan pesan apa adanya secara jujur mengenai Ke-Esaan Tuhan. Logika yang sangat sederhana; Tuhan itu Satu maka dimana pun kita berada ada Tuhan yang sama di situ.

Sekumpulan ayat-ayat suci dari Alquran dikeluarkannya, langkap dengan tafsir. Saya mengimani itu semua. Tetap malam itu terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Saya bertanya dalam hati, mengapa pemahaman saya dan teman saya itu berbeda, bahkan hampir bertolak-belakang?

Dia mengatakan bahwa Tuhan itu adalah segalanya yang baik. Tuhan Maha adil. Lalu saya bertanya, "Bagaimana kau menjelaskan kondisi sebagian dunia ini yang tidak seberuntung kita di Indonesia ini? Kemiskinan, perang, dll, di Somalia - Afrika misalnya?"

"Apakah Tuhan sedang menghukum mereka? Apakah Tuhan membenci mereka?"

"Jika Tuhan hanya ada di kondisi yang kau katakan sebagai - BAIK - , maka apakah Tuhan tidak ada di tempat-tempat yang saya sebutkan tadi?"

"Tuhan tidak ada di Afrika?"


Ya, seperti yang saya duga, dia hanya mampu memancarkan air muka yang sangat ingin menyudahi perbincangan ini. Ya sudah, saya pun sudah tahu sejak awal akan berakhir seperti ini.

Saya menyayanginya teman saya dan tidak akan pernah membencinya. Bagi saya dia mewakili jutaan orang di luar sana yang memandang agama sebagai pembatas. Memandang doktrin sebagai kebenaran.

Contoh lain, sekelompok orang yang meng-Agungkan 99 nama Allah. Saya mengimani itu semua. Akan tetapi sebagian dari mereka tidak setuju pada saya ketika saya mengatakan, "Jika Allah itu Maha Penyayang, Dia juga Maha Penghukum, Menghinakan, Merendahkan. Dan kita harus juga meng-Agungkan nama-nama itu."

"Ada sebagian orang yang menghina orang lain. Mereka wajar berbuat itu karena Menghina juga sifat Allah."
Saya pun mendapatkan argumen keras dan berusaha menjelaskan kepada saya bagaimana menyikapi 99 nama Allah itu. Saya mendengarkan dengan seksama dan tentu saya membenarkan apa yang mereka jelaskan kepada saya. Lagipula saya sudah memahaminya sebelum mereka menjelaskan.

Lalu saya mencoba dengan sopan, "Baiklah. Terima kasih atas penjelasnnya, saya ingin membagi pengetahuan sedikit mengenai 'tingkat kesadaran', yang saya rasa dapat melengkapi diskusi kita ini."

Mereka tidak mau mendengarkan. Mereka merasa puas dengan apa yang baru saya mereka sampaikan kepada saya dan menganggap hanya itu penjelasan yang boleh dipahami.

Hmmm.....
Mungkin memang bagi mereka, Tuhan tidak ada di Afrika.
Bagi mereka Tuhan hanya ada bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Mengapa masih ada manusia yang mengharuskan Tuhan berada di sini atau di sana sedangkan mereka juga yakin bahwa Tuhan menciptakan seluruh alam ini?

Mengapa masih ada manusia yang membagi-bagi Tuhan, padahal mereka selalu bersaksi "Tiada Tuhan selain Allah."?

Tuhan tidak ada di Afrika.








Diary 48:
Oneness Attitude

Sikap Kesatuan


Pernahkah kau melihat orang yang tengah jatuh cinta?
Pernahkah kau menatap mata seorang yang tengah dipuncak rasa cintanya?

Kau akan perhatikan mata yang berbinar memancar, raut mukanya berubah, wajahnya bercahaya, bibirnya terenyum simpul yang sangat manisnya.

Gerak tubuhnya pun berubah. Bila berjalan, bagaikan berjalan di atas awan, serasa melayang dan menari. Lambaian tangannya lembut lentur bagaikan penari.

Ucapannya pun lembut dan indah didengar bagaikan pujangga.

Pernahkah kau bertanya kepada siapa cintanya itu?

Kepahaman akan singularity illahi adalah memandang alam ini apa adanya secara kesatuannya. Menerima semuanya sebagai yang Satu.

Ada cinta,
Ada kasih,
Ada compassion (iba),
Ada memaafkan,
Ada equality dan memahami,
Ada tenggang rasa dan toleransi,
Ada sabar,
Ada damai,
Ada syukur.

Tuhan mendahulukan kebutuhan manusia.
Dia memberikan kebahagiaan, memberikan teman hidup, memberikan seluruh alam yang kaya ini. Semua agar kita bersyukur.

Cintanya tak berbatas dan tak berbagi.
Kasihnya untuk semua makhluk.

Relakah kau tukarkan semua itu untuk-Nya semata?
Mengapa tidak?
Tidak ada yang lebih penting dari hubunganmu dengan-Nya.

Kemanapun kau memandang, ada wajah Tuhan.








Diary 49:
Punishment for Love

Hukuman untuk Cinta

"O soul at rest, return to thy Lord, well pleased and well pleasing. Enter as My servant, enter into My heaven." 
(Quran 89:27-30) 
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho. Masuklah sebagai hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku".

Ridho adalah utuh. Keseluruhan. Tanpa syarat. Tanpa batas. Pasrah. Ikhlas. Rela, Totalitas. Bebas.

Kedekatan manusia dengan Tuhan adalah bagaimana manusia tersebut ridho dalam melakukannya.

Perjalanan pulang ke dalam diri untuk bertemu Sang Aku, yaitu bertemu Tuhan yang ada di dalam diri ini, di dalam hati ini, sangat sulit dilakukan karena ego, materialism, dan logika linear manusia.

Dia yang di dalam adalah Yang Singular. Dia tidak akan bisa dicapai bila pikiran manusia masih duality; yaitu Baik-Buruk, Benar-Salah, dll. Apalagi manusia sudah sangat berani menghakimi manusia lainnya berdasarkan keputusan yang dibuatnya yang belum tentu berlandaskan kebenaran yang hakiki. Manusia membuat batasan keras antara satu dengan yang lain, dan mendeklarasikan bahwa semua yang berada di dalam batasan ini adalah benar dan yang diluar adalah salah atau kafir.

Sekeras itulah batasan yang dibuat mereka untuk membatasi dan memenjarakan diri mereka sendiri. Dan anehnya, mereka berjuang mati-matian untuk tetap berada di dalam serta menghujat semua yang berada di luar atau yang melompat ke luar.

Duality. Itulah batasanmu.
Sedangkan mereka juga berikrar meyakini akan Tuhan yang Singular. Logis? Tentu tidak.

Perjalanan ke dalam diri, menemukan Tuhan di dalam diri ini adalah menemukan yang Singular. Oneness. Perjalanan yang sangat panjang dan berat. Hanya mereka yang terpilih atau terpanggil, dan mau belajar saja yang ridho menempuh perjalanan sulit ini.

Di dalam sana ada singularitas rasa yang termanifestasi ke luar dalam bentuk cinta, kasih, compassion (iba), maaf, damai, dan syukur. Mereka yang menemukan Sang Maha Singular itu menemukan cinta yang bukan lawan dari benci, tetapi cinta yang singular, kepada semua makhluk.

Mereka mengalami transformasi hati dan melahirkan sosok manusia baru yang merindu dan dirindu. Yang penuh rasa cinta dan kasih kepada sesama. Yang mengutamakan hubungan harmonis antara manusia dan sesama penghuni alam ini. Yang selalu mendahulukan mendoakan sesama lainnya ketimbang dirinya sendiri. Yang iba terhadap kejadian di sekitarnya dan dengan ikhlas menolong.

Yang selalu luluh hatinya kala mendengarkan suara-suara alam. Yang menitik air matanya kala kulitnya disentuh belaian angin dan air hujan.

Yang selalu bersyukur atas kerunia Tuhan, apakah itu yang baik maupun yang buruk, yang suka maupun duka. Yang senang maupun susah. Karena kedua kutub itu berasal dari Sang Satu juga.

Inilah mereka yang ridho. Mereka yang menemukan Tuhan.

Akan tetapi Mereka yang ridho itu dihujat, dimusuhi, dicaci, dimaki, dan dibenci oleh sebagian lainnya karena bagi sebagian, mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang berada di luar batasan itu.

Inilah hukuman bagi orang-orang yang ridho. Inilah hukuman bagi mereka yang merasakan Cinta Tuhan.

Seperti Isa dan Magdalena yang dihujat karena mereka merasakan cinta Tuhan.

Namun apakah mereka bergeming? Tidak.
Mereka sudah merasakan setitik cinta Tuhan yang Maha Agung itu sehingga tidak ada yang lebih penting dari hubungan mereka dengan Tuhan.
Mereka tersenyum kepada yang memusuhi.
Mereka memaafkan semuanya.
Dan mereka tetap tertunduk rendah hati terhadap sesama.
Karena mereka sudah merasakan cinta Tuhan.

Ia dihukum sampai mati demi Cinta Tuhan seraya tetap sempat berdoa di akhir hayatnya, "Ya Tuhan, maafkanlah mereka karena mereka tidak tahu."

Inilah hukuman untuk Cinta.

----------
Wahai saudaraku,
The Great Attractor memberikan pegangan pada kita, bahwa yang baik akan tetap baik. Yang putih akan tetap putih.

Tidak ada batasan apa pun untuk cinta Tuhan.
Cahaya Cinta Kasih Tuhan memancar ke seluruh penjuru alam tanpa batasan, tanpa pilih kasih. Bahkan ia ada disetiap manusia yang membencimu sekalipun.

Maka sayangilah semua. maafkan semua, minta maaflah pada semua. dan tundukkanlah dirimu untuk Tuhan.

Kalian adalah makhluk yang dirindui.
Tidak ada kekhawatiran. Tidak ada rasa takut.
Rasakanlah kerinduan Sang Yang Maha Sendirian itu.
Bila kau harus mati, matilah karena cintamu pada-Nya.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho.




---------------
Erianto Rachman

Tidak ada komentar: