Jumat, 05 Agustus 2016

A Sufi's Diaries: Book 3






Diary 14:
Merdeka!

"Merdeka!"
Begitulah seruan guruku setiap kali kami selesai berbicara.
Tahukah kalian, seruan itu adalah seruan yang terbaik yang diucapkan seorang guru kepada muridnya.

Hari 1:
"Merdeka!" Serunya.
Kesedihan, kemarahan, kebencian, dendam adalah tali kekangmu. Putus asa, kecewa, adalah jangkar. Sesal adalah pasak tambatan. Bebaskan dirimu dari semua yang menahanmu dengan cara tidak bersedih, tidak putus asa, dan penyesalan. Semua rasa negatif itu adalah penjaramu! Bebaskanlah dirimu! Merdeka!

Hari 2:
"Merdeka!" Ujarnya.
Bangga adalah tali kekangmu. Kebahagiaan adalah jangkar. Rasa senang adalah tambatan. Rasa-rasa itu adalah ilusi yang lebih kuat dari apa yang kau pelajari di hari pertamamu. Rasa itu seolah rasa yang positif, yang kau terima dengan hati terbuka. Namun, semua adalah ilusi. Tanpa kau sadari rasa-rasa itu menahanmu dan memenjarakanmu. Bebaskan dirimu dari rasa semu itu. Merdeka!

Hari 3:
"Merdeka!" Katanya.
Rasa iba, rasa kasihan, empati, simpati, adalah ilusi, tambatan, jangkar dan memenjarakanmu. Terlalu banyak kau bergelimang rasa-rasa itu, semakin lambatlah langkahmu. Maka bebaskanlah dirimu dari rasa semu itu. Merdeka!

Hari 4:
"Merdeka!" Bisiknya.
Lalu apa yang sesungguhnya ia maksudkan dengan merdeka itu?
Di setiap langkah, di hari-hari aku menekuni pelajaran dari sang guru, aku tertegun. Lalu kutemukan sebentuk rasa di dalam kekosongan. 

Seekor kupu-kupu yang hinggap di dada ini dan aku seperti menerima sengatan rasa. Rasa apa ini? Begitu meluapnya sehingga tak mampu terdefinisikan.
Inilah rasa tanpa kemelekatan. Rasa dari Sang Satu.
Rasa yang singular, tanpa kutub. adanya di titik diam. di titik nol.

Kemudian kupu-kupu itu terbang meninggalkanku.
Tetapi... beban tubuh ini serasa menghilang, ringan.....lalu aku melayang... dan terbang bersamanya. Hei... aku merasa bebas!

Tidak ada bahasa yang mampu menyebutkan rasa itu.
Ini adalah bahagia yang bukan lawan dari sedih, penuh cinta yang bukan lawan dari benci. Damai yang bukan lawan dari permusuhan, Bebas yang bukan lawan dari terkurung. Rasa yang singular adalah rasa dari-Nya. Rasa tanpa kemelekatan.
Merdeka!

Hari 5:
"Merdeka!" ucapku padanya.
Setelah bertahun lamanya, sekarang aku paham.

Aku pun bukan lagi receiver. aku bukan lagi transmitter. aku adalah tranceiver.
Aku menerima rasa, lalu aku pancarkan rasa itu kepada sesama dan seluruh penjuru alam.
"Kasih".

"You have escaped the cage. Your wings are stretched out. Now fly." 
(Kau telah lepas dari sangkar. Sayapmu terbuka lebar. Sekarang terbanglah.) 
~ Rumi ~





Diary 15:
Enlightenment
(Pencerahan)

Coretan saya kali ini berhubungan erat dengan sebelumnya, yaitu “Merdeka!”.

Seseorang bertanya kepada saya, “Apa yang membedakan saya dengan anda?”
Lebih umum, yang dimaksud olehnya adalah, “apa yang membedakan seorang yang tengah belajar (ilmu spiritual) dengan orang lainnya yang sudah tahu lebih baik mengenai ilmu ini? Apa yang dilakukannya yang membuatnya berbeda/tahu lebih dulu?”

Kemudian baru saja kemarin, saya bertemu seorang sahabat yang tanpa diminta telah membagikan suatu keterangan singkat yang bagi saya telah menjawab pertanyaan di atas. Dia mengutip ceramah DR. Imaduddin, atau biasa dipanggil Bang Imad (Almarhum) di TV. Ia berceramah mengenai “Nikmat”. Apakah nikmat itu?

Nikmat, katanya, dibagi menjadi 3 tingkatan. Tingkat pertama yang paling rendah adalah, nikmat dunia. Yaitu nikmat yang datang dari kepemilikan harta, benda, keluarga, jabatan, kebanggaan, kebesaran, kehormatan, pengakuan dari orang lain, dan lainnya. Sebagian besar orang menyikapi kenikmatan dunia ini sebagai anugerah terbaik yang diberikan Tuhan. Di sini ada aturan. Di sini ada dogma dan doktrin.

Disadari maupun tidak, bentuk-bentuk kenikmatan dunia ini menuntut seseorang mematuhi koridor-koridor atau norma-norma yang membatasi gerak dan pikirannya. Di sini ada sesuatu yang sangat diagungkannya sehingga ia harus patuh. Secara esensi, dia terpenjarakan oleh norma, dogma, dan doktrin itu. Inilah kemelekatan duniawi.
Salahkah bila seseorang merasa nyaman di sini dan memutuskan untuk tetap berada di sini? Tidak salah. Baik-baik saja. Bahkan kita patut mensyukuri pencapaian kita di tingkat ini.

Tingkat di atasnya, adalah nikmat “Kemerdekaan.”
Apakah definisi merdeka? Jika anda menggunakan istilah ‘definisi’ yang artinya ‘batasan’, maka pertanyaan anda salah, atau merdeka tidak terdefinisikan, karena merdeka tidak memiliki batasan apa pun. Merdeka adalah kebebasan mutlak dari cara berpikir dan pandangan seseorang terhadap sesuatu. Bebas dari apa ‘katanya’ orang lain. Merdeka dari dogma, doktrin dan semua bentuk pembatasan, termasuk dari harta benda yang dimilikinya, keluarga, jabatan, kehormatan, dan lainnya yang didapatnya di dunia. Merdeka dari Kemelekatan duniawi.

Mereka yang berada di sini memandang kehidupan apa adanya. Ia mampu melihat esensi dibalik bentuk. Ia me-rasa-kan segala sesuatu yang halus dari yang kasar. Ia mendengar pesan-pesan halus di alam yang selama ini tertutup oleh definisi. Ia menerima alam ini seutuhnya.

Di sini, akan timbul nikmat yang lain, yaitu rasa damai, cinta, kasih, terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan, tanpa pandang ras, bentuk, suku, gender, agama, kepercayaan, baik itu makhluk hidup maupun mati. Semua diciptakan oleh cinta Tuhan dan patut diresapi oleh cinta pula.

Di rasa merdeka yang murni ini ditemukan satu saja yang mampu menguasainya, yaitu Tuhan itu sendiri. Eksistensi adalah hanya dia dan Tuhan. Tuhan itu SATU dan dimana-mana tanpa definisi. Lalu ia pun bersaksi akan kebenaran ini.

Hanya setelah benar-benar berada di tingkat nikmat Kemerdekaan ini, seseorang akan mampu mendapatkan nikmat tingkat terakhir, tertinggi, yaitu;

Nikmat “Enlightenment”.
Bang Imad tidak menggunakan istilah Engligthenment atau pecerahan, namun ia menggunakan istilah “Hidayah”. Apa itu hidayah? Hidayah adalah ‘bimbingan’. Bimbingan dari siapa? Adalah bimbingan langsung dari Tuhan. Karena hubungan manusia dengan Tuhan adalah langsung – bebas – merdeka – tanpa syarat, tanpa perantara, tanpa defisni – tanpa batasan apa pun. Dan bagi saya inilah yang saya sebut dengan “pencerahan”.

Pencerahan adalah pengetahuan. Orang yang mendapat hidayah adalah orang yang mendapatkan pengetahuan Tuhan. Pengetahuan yang hanya mampu diterima oleh jiwa yang merdeka dan menerima pengetahuan itu tanpa syarat. Pengetahuan tanpa pengkotak-kotakan. Pengetahuan hakiki.

Lalu apa rasa kenikmatan di tingkat ini? Tak terlukiskan.
Inilah yang membedakanmu dengan dia, dan menjawab pertanyaan awal di atas.

Sebagian besar manusia mengarungi alam spiritual dan mencari Tuhan dengan panduannya masing-masing. Mereka membayangkan Tuhan yang ber-atribut. Tuhan itu begini, Tuhan itu begitu. Selama mereka masih membelenggukan pemahaman mereka dengan segala bentuk atribut itu, mereka tidak akan menemukan Tuhan. Sedangkan Tuhan sudah ada di dalam hati mereka masing-masing. Tuhan merdeka tanpa definisi. Tuhan yang tanpa syarat apa pun.

Saya sering berkata, “pengetahuan Tuhan hanya datang dengan cinta”.
Maka terimalah Tuhan apa adanya, dan rasakan Cinta Tuhan yang tanpa syarat itu.
Pengetahuan akan datang dalam bentuk bebas, halus, tetapi sangat nyata.
Bacalah!






Diary 16:
Wisdom
(Hikmah)

Bang Imad berkata, "Hikmah adalah perpaduan antara Hidayah dan Keimanan".
Saya menyambut kalimat tersebut dengan mengatakan;
"Hikmah adalah apa yang diperoleh dari gabungan antara Pencerahan (pengetahuan) + Spiritual."

Jika seseorang sudah mengecap kenikmaan tertinggi, yaitu Pencerahan, dan ia pun mengakui Tuhan yang Satu, maka secara alamiah, ia akan mendapatkan hikmah, atau wisdom, atau kearifan yang tinggi.

Hikmah adalah kemampuan melihat sesuatu yang tak terlihat. Seseorang akan melihat atau merasakan pesan dari setiap kejadian yang dialaminya.

Salah satu hikmah terbesar adalah: Cinta Tuhan.
Seseorang bertanya kepada saya mengenai hubungan antara manusia dan Tuhan. Ini penjelasan saya;

Apa yang kau rasakan bila seseorang mengucapkan rasa terima kasihnya yang tulus kepadamu atas sesuatu yang kau berikan padanya juga dengan ketulusanmu?
Jawabannya adalah Rasa Bahagia yang sangat besar.

Begitu pulalah Tuhan merasakan kebahagiaan bila manusia bersyukur kepadaNya. Dan rasa syukur ini bisa datang dari siapa saja, tanpa pandang usia, gender, ras, dll.

Tuhan telah memberikan banyak kepada kita tak henti-hentinya dalam segala bentuk. Inilah Cinta Tuhan yang tanpa syarat itu. Namun manusia ada yang menyadarinya, dan ada yang tidak. Meskipun demikian Tuhan senantiasa memberi.
Rasa syukur kita membahagiakanNya.

Kualitas cinta Tuhan kepada manusia diukur dari seberapa manusia itu mencintai Dia.
Bagaimana cara mencintai Dia?
Adalah dengan mencintai semua makhluk ciptaanNya.
Caranya? Yaitu dengan memberikan manfaat kepada sesama ciptaanNya. Inilah fitrah manusia, yaitu memberikan manfaat kepada alam, tanpa syarat.

Jika kau menyadari ini, maka sedih, keluh, dan sesal, putus asa, tidak relevan lagi, karena kau dan aku sudah berada di pola Atraktor Agung - di JalanNya. Dan Hukum dari Atraktor Agung adalah yang benar akan selalu benar, yang baik akan selalu baik. Kesabaran akan membuahkan hasil yang baik sesuai hukumNya ini.

Maafkan saya yang seolah mempersonafikasikan Tuhan, tetapi tidak ada bahasa atau ungkapan lain yang mampu menjelaskannya. Semoga hikmah ini bisa dipahami dengan baik.

Siapa pun dirimu, dimanapun dirimu berada, apa pun kondisimu, capailah pencerahan, maka kau akan menerima hikmah-Nya yang sangat besar, dan kau akan senantiasa bersyukur atas apa pun yang sudah dan akan kau peroleh.

Dan bersama-sama kita dengan tulus memberikan manfaat kepada sesama, agar mereka pun mendapatkan pencerahan seperti kita.

Dapatkah kau rasakan teduhnya senyuman dari seorang yang tidak kau kenal?
Sesungguhnya kalian sudah saling mengenal, karena kalian berasal dari sumber yang sama. Berilah senyumanmu kepada semua.

Salam Cinta dan Kasih.
Laillaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Tuhan).
Shanti, Shanti, Shanti...






Diary 17:
Manifestation
(Manifestasi)

Apakah manifestasi itu?
Manifestasi adalah perwujudan. Saya mengartikannya sebagai perwujudan sesuatu dari sesuatu yang lain sebelumnya. Biasanya dari sesuatu yang abstrak ke yang konkrit. Atau dari yang tidak teratur menjadi sesuatu yang teratur dan dapat dipahami.
Esensinya adalah dari yang tidak ada menjadi ada.

Jika anda seorang pelukis, maka hasil karyamu yaitu lukisan adalah manifestasi dirimu, dari imajinasi ke dalam sebentuk karya lukis. Karyamu mewakli dirimu. Karyamu-lah dirimu.

Jika anda seorang pujangga, maka syairmu adalah dirimu.
Jika anda seorang penggubah lagu, maka lagumu adalah dirimu.
Jika anda seorang pengukir, maka ukiranmu adalah dirimu.
Jika anda seorang penulis, maka tulisanmu adalah dirimu.
Jika anda melakukan suatu pekerjaan, maka hasil dari pekerjaan itu adalah dirimu.

Karya cipta adalah manifestasi segenap rasa dan energi dari seorang yang menciptakannya. Karya tersebut akan membawa ciri khas penciptanya. Bahkan sebuah karya mampu menyampaikan pesan-pesannya yang dalam dan luas. Membuat kita tertawa, tersenyum, menangis bahagia, atau menangis haru hingga tak kuasa tangan kita menyentuh dada ini, betapa tersentuhnya hati kita oleh karya dari seseorang itu.

Dengan demikian pula, maka dari sebuah karya, kita bisa merenungkan (contemplate), menelusuri serta mengenali siapa penciptanya.

Jika kita mempelajari dan merenungi alam ini dengan cara melihat alam ini secara utuh dan dalam kesungguhannya, maka kita pun akan menemukan siapa penciptanya.

Manifestasi adalah sebuah kemampuan manusia yang alamiah. Karena manusia membawa sifat Tuhan, yaitu Pencipta. We are agents of creation.

Manifestasi dihasilkan dari RASA atau Feeling.
Maka, bukan maumu yang akan termanifest, melainkan rasamu.
Bukan permintaanmu yang akan termanifest, melainkan apa yang kau rasakan.

Your feeling is your prayer. Not your words.

Berbahagialah, maka kau akan menciptakan (memanifestasikan) bentuk kebahagiaan ke dunia ini. Jangan membatasi Kuasa Tuhan. Relakan Tuhan menjadi rekanmu untuk bersama-sama mewujudkan bahagia itu ke dunia.

Berencanalah, lakukanlah, tentukanlah hidupmu bersama Tuhan.
Ber-manifest-lah bersama Tuhan.

"Our purpose here on Earth: To manifest the very nature of our spirit, which is touched by the spirit of God." 
(Tujuan kita di bumi ini: untuk mewujudkan sifat dasar jiwa kita, yaitu tersentuh oleh Jiwa Tuhan.) 
~ Rumi ~

"Becasue the Beloved wants to know, unseen things become manifest. Hiding is a hidden purpose of creation." 
(Karena Yang Dicintai ingin mengetahui, yang tak tampak menjadi wujud. Kesembunyian adalah tujuan tersembunyi dari penciptaan.") 
~ Rumi ~






Diary 18:
Negative and Positive are From the Same Source
(Negatif dan Positif adalah dari sumber yang sama)

Banyak yang bertanya kepada saya, atau anda mungkin juga sudah sering mendengar komentar, keluhan atau pertanyaan serupa mengenai kesedihan, kegalauan, penyesalan, dan problematika lainnya dari seseorang.

Seorang yang datang dengan keluhan selalunya mengharapkan dikeluarkannya dia dari masalahnya dan ingin selalu diberikan kebahagiaan atau kesenangan, serta kemudahan dalam menjalani hidup ini. Dan tentu saja, semua orang inginnya begitu. Termasuk saya.

Adapun demikian, sadarkah, kalau kita meyakini Tuhan yang Satu, maka semua rasa ini datangnya juga dari yang SATU itu? Rasa yang kita anggap negatif maupun positif berasal dari Tuhan yang sama. Inilah pemahaman yang membuat saya tenang. Di sini saya mendapatkan ketenangan. Bahwa Tuhan selalu ingat kepada saya. Kesusahan yang saya alami, juga kebahagiaan yang saya dapati kedua sisi rasa ini adalah karunia Tuhan kepada diri saya. Semua itu alamiah dan seimbang. Semuanya baik-baik saja.

Bila yakin Tuhan itu satu, maka tidaklah mungkin kita hanya mau menerima Tuhan yang selalu memberikan kebaikan. Tuhan adalah semuanya.

Di sini kita menerima atau "Accept" Tuhan apa adanya. Di sinilah ada Ridho. Inilah satu bentuk dari Acceptance.

Dengan accept, maka kita akan tenang. Dengan ketenangan, kita akan mampu segera keluar dari kesedihan dan mampu berpikir jernih untuk mengatasinya. Inovasi serta ide datang dari jiwa dan pikiran yang tenang. Dari sini akan terbangun semangat baru. Memperbaiki yang salah, mengatur strategi untuk mengatasi dan maju ke depan, menghindari masalah serupa dan meraih apa yang lebih baik.

Segenap energi positif yang kita keluarkan, pemikiran yang kita curahkan, gerak yang kita lakukan, adalah proses dari manifestasi. Cahaya yang menenangkan hati terpancar dari kita yang berjiwa tenang dan positif. Cahaya 'baik' itu adalah attractor yang bernilai kalibrasi tinggi. Attractor yang besar akan selalu mengatasi attractor yang kecil. Hanya saja, attractor besar butuh waktu untuk menunjukkan hasilnya.

Selain waktu, attraktor besar butuh energi besar untuk menjalankannya. Maka, kita harus berusaha keras agar kebaikan-kebaikan itu terungkap. Inilah yang sering kita dengar, "Sabar dan berusaha."

Accept the bad, to accept the good.
(Terima yang buruk, untuk menerima yang baik).

Salam Ketenangan.






Diary 19:
Noble Livelihood
(Penghidupan yang Mulia)

Salah satu jalan menuju pencapaian kesadaran tinggi terproyeksi dari seseorang akan penghidupannya. Atau bagaimana dia menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya serta orang-orang yang menjadi tanggungannya. Apa pekerjaannya, bagaimana dia menjalankan / melakukan pekerjaannya itu, dan apa serta untuk apa hasil yang didapatkannya.

Is your livelihood noble?
Apakah penghidupanmu adalah penghidupan yang mulia?

Apakah penghidupan yang mulia itu?
Pertanyaan ini bisa dijawab dengan menjawab pertanyaan berikut:

Apakah pekerjaan anda? Siapa saja yang memperoleh manfaat dari apa yang anda kerjakan? Sebanyak apa orang yang tersentuh hatinya atas hasil pekerjaan anda?
Kemudian,
Untuk apa hasil yang anda dapatkan? Seberapa banyak orang yang dapat anda bantu dari penghasilan anda itu?

Jawaban-jawaban untuk pertanyaan di atas haruslah mulia. Mulia datang dari kebaikan. Maka milikilah pekerjaan yang baik, lakukanlah dengan baik dan penuh kesungguhan. Kebaikan untuk banyak orang. Penghasilan pun diperuntukkan untuk membantu orang lain untuk kebaikan.

Ibarat aliran sungai,
Disadari maupun tidak, anda sudah atau akan berada di aliran sungai kehidupan yang alamiah, dimana anda mengalir di dalamnya tanpa paksaan, ikhlas, serta baik. Semua bukan milik anda. Tidak ada yang milik anda. Di dalam aliran sungai ini, anda menerima hasil darinya dan mengembalikannya ke tempat yang sama pula. Terima baik, hasil pun baik.

Percakapan dengan seorang pembaca;
Ia memiliki potensi yang sangat besar, ia adalah seorang penyembuh yang handal dan telah menyentuh hati banyak orang. Apa yang dilakukannya sudah baik. Kebaikan ini akan terus menjadi baik apa pun yang terjadi bila ia selalu berada di sungai itu. Dan kebaikan di atas kebaikan, kebaikan di dalam kebaikan akan menjadi kebaikan yang lebih besar lagi nilainya bagi semua.

Aliran sungai ini tidak akan berbalik arah, tidak pula berhenti. Mungkin hanya melambat sesekali, tidak perlu meratapi kesusahan dan bersedih, kerena aliran ini hanya punya satu tujuan, yaitu terus bergerak ke depan.
Mengalirlah bersamaNya.

Seperti aliran sungai pula, akan semakin besar dan deras bila banyak air yang tertampung. Maka, tolonglah orang lain untuk berada di tempat anda berada. Semakin banyak yang anda tolong, semakin besar pula kehidupan anda dan anda akan merasa kewalahan menikmati derasnya aliran kenikmatan dan kebahagiaan itu, sambil tetap menyadari bahwa semua itu bukan milik anda.

Berpenghidupanlah yang baik.
Mengalirlah bersamaNya.






Diary 20:
The Jolt #3: Fruits of Life
(Sentakan #3: Buah-buah Kehidupan)

Sepanjang hidup, saya dihadapkan pasang naik dan pasang surut. Entah sudah berapa banyak. Baik yang berskala kecil sampai yang meninggalkan bekas cukup dalam. Tentunya saya tidak mungkin menceritakannya di sini. Saya hanya akan mengangkat intisarinya saja.

Saya ambil contoh paling sederhana dan sering dialami kebanyakan dari kita, misalkan hubungan dengan atasan di kantor tempat kita bekerja. Banyak keluhan seputar ini. Atasan yang sulit dimengerti, kejam, kasar, ketus, pilih-kasih, merendahkan, tidak memotivasi, kurang ini, kurang itu, dan seterusnya... dan seterusnya...

Pokok bahasan di sini bukan bagaimana menangani atasan yang sikpanya tidak baik menurut kita, tetapi masalah ini terulang terus pada kita. Setelah memutuskan resign, lalu masuk ke tempat kerja baru, dihadapi masalah serupa. Resign lagi, ketemu lagi masalah yang sama. Begitu terus...

Lalu terucap keluhan seperti ini, "Nasibku memang sangat buruk..."
atau, "Mengapa masalah ini datang terus padaku..."

Banyak contoh lainnya. Tetapi terlalu banyak dan panjang bila kita sebutkan. Saya ambil satu contoh lagi;

Saya memiliki sahabat, dia warganegara Singapore, dua tahun lebih tua di atas saya dan dia seorang salesman yang sangat hebat. Setiap kami bertemu, dia membagikan ceritanya yang berkali-kali mendapatkan customer/klien yang sulit-sulit. Terlalu sulitnya sehingga saya sampai melongo mendengarkan ceritanya. Dan tidak hanya mendengarkan saja, oleh karena kami pernah bekerja di tempat yang sama, saya menyaksikan dengan mata saya sendiri, berada dalam satu ruangan dengannya yang sedang menghadapi caci-maki, rayuan, negosiasi kasar, dari para kliennya atau calon kliennnya.

Saya paham betul betapa sulitnya tantangan yang dihadapi. Saya pun mengakui bahwa saya tidak akan sanggup bila saya yang mengalaminya.

Terjadilah sentakan pada saya! Saya ulangi lagi kalimat saya, "Saya mengakui bahwa saya tidak akan sanggup bila saya yang mengalaminya!"

Tetapi sahabat saya itu mampu!
Dan dia sangat sukses atas penjualan yang dilakukannya. Penghasilannya melambung tinggi dan dia menjadi salah satu dari sedikit Singaporean yang mempunyai rumah di atas tanah, besar, megah, dengan 4 lantai, dilengkapi private swimming pool.

Mungkin pandangan kita salah. Bila ada kejadian yang sulit yang kita hadapi terus menerus, ini bukanlah nasib kita yang buruk. Ini bukanlah sesuatu yang harus dipandang negatif. Justru inilah yang akan menjadi keahlian kita.

Di tahun 2000, saya membeli banyak buku mengenai kepribadian, seperti Personality Plus, Personality Puzzle, dan lain sebagainya guna mengetahui chemistry yang sesungguhnya terjadi pada hubungan antara sesama manusia. Bagaimana memahami orang lain dan dipahami orang lain sehingga hubungan menjadi baik. Dan saya berhasil. Di 10 tahun terakhir, saya sudah berganti-ganti atasan yang semuanya kerap menepuk bahu saya dengan perasaan senang.

Saya pun belajar banyak dari sahabat saya mengenai apa kiat-kiatnya menghadapi orang-orang yang sulit. Bagaimana merubah "Tidak" menjadi "Ya". Sebuah keahlian terhebat yang dimilikinya. Masuk ruangan selalu disambut dengan "Tidak", tetapi selalu juga keluar dengan "Ya".
Ini sangat luar biasa!

Maka, saya menolak untuk menerima kata "cobaan / cabaran hidup". Saya lebih memilih; "I am chosen to handle this."
"Masalah ini memang untuk saya, dan hanya saya seorang yang mampu mengatasinya. Bukan orang lain."

Alam ini seperti sedang bermain puzzle. Ia akan memasukkan setiap kepingan ke tempat yang sesuai / pas.

This is one of the fruits of life. Accept it and enjoy the sweetness.
(Ini adalah salah satu buah kehidupan. Terima dan nikmatilah manisnya.)







Diary 21:
Petikan Buah Manis Kehidupan

Baru saja, saya sedang berada di dalam mobil, berhenti karena traffic light merah di persimpangan jalan.

Dari sebelah kiri terdengar bunyi klakson (horn) berkali-kali dari sebuah motor. Saya menoleh ke arahnya. Rupanya seorang pengendara sepeda motor (pria, sepertinya seorang kurir yang tengah terburu-buru) meminta motor lain di depannya yang menghalanginya, untuk maju sedikit guna memberikan jalan baginya untuk bisa lanjut belok ke kiri di persimpangan itu yang ternyata kalau belok kiri boleh langsung.

Pengendara motor di depan adalah dua orang perempuan (mungkin remaja, karena kedua wajah tertutup helm dan separuh wajah tertutup masker debu).
Setelah memberikan ruang jalan kepada si kurir, tampak pengemudi berceloteh sesuatu sambil memandangi si kurir yang berlalu dengan cepat. Saya yakin ia mengomentari kejadian itu.

Di akhir celoteh, teman yang diboncengnya tertawa sambil menepuk helm temannya itu sampai kepalanya terhuyung ke samping sedikit. Bahasa tubuh menunjukkan itu adalah sebuah tepukan canda atas ucapan temannya itu.
Saya tidak tau apa yang diucapkan mereka tetapi dari sinar mata keduanya, tampak mereka tertawa riang.

Hati saya tersentuh menyaksikan kejadian tadi.
Si mas kurir dengan paras memohon sekaligus mendesak tergesa-gesa, kemudian berubah menjadi lega seteleh diberi jalan. Seperti hajat yang terpuaskan :-)

Kemudian dilanjutkan dengan kedua teman yang riang gembira menikmati kelakarnya sendiri.
Kejadian yang hanya 3 menit itu menyentuh hati saya dan saya ikut tersenyum senang.

Kejadian kecil ini contoh sederhana yang sering saya alami di tengah-tengah keramaian, di manapun saya berada. Energi yang positif dapat dirasakan oleh kita atas kejadian apa pun.

Salah satu bentuk "meditasi terjaga" adalah mengenali / merasakan dan sadar selalu atas energi-energi alam yang dihasilkan dari kejadian apa pun.

Negatif maupun positif adalah alamiah. Kita bisa menyaringnya, memurnikan yang tidak murni. Pada ujungnya hati kita yang merasakannya.
Latihlah selalu kesadaran ini.






---------------
Erianto Rachman

Tidak ada komentar: