Selasa, 05 Juli 2016

A Sufi's Diaries: Book 2






Diary 8:
Acceptance
(Penerimaan)

Satu sisi koin tidak mungkin ada tanpa sisi lainnya.
Pertanyaan tidak ada bila tidak ada jawabannya.
Jawaban tidak ada tanpa ada pertanyaan.
Sebab ada karena ada akibat. Akibat ada karena sebab.
Masa lalu tidak ada bila tidak ada masa depan. Masa depan tidak ada bila tidak ada masa lalu.
Baik tidak ada tanpa yang buruk. Buruk tidak ada tanpa yang baik.
Dualitas kondisi ada saat ini dan sudah terjadi.


Kakiku naik ke atas sofa, tubuh merebah beralaskan bantal besar yang empuk, santai sambil memandang layar TV yang menayangkan serial kegemaranku. Di samping kanan, di atas meja kecil, secangkir kopi hangat menemaniku.
Sangat nikmatnya hidupku.

Aku duduk di atas tikar tipis di atas lantai keras di bilikku yang sempit, memandang jendela kosong, kepalaku diganjal dengan bantal kecil yang berbau apek kurang sedap. Segelas air menemani di sisiku.
Sangat nikmatnya hidupku.
Aku turun dari mobil mewahku yang pintunya dibukakan oleh supir pribadi berseragam safari rapih. Tasku dibawakan oleh asisten pribadiku yang sigap nan cekatan.
Betapa nyamannya hidupku.

Aku parkirkan motor bututku di bawah pohon, berharap tidak kehujanan. Kupanggul tas tuaku di punggung dan jinjing helm di tangan kiriku. Tangan kanan sibuk meraih uang kecil di dalam saku celana dekilku untuk kuberikan ke penjaga parkir. Betapa nyamannya hidupku.

---------------

Aku adalah orang yang sangat beruntung. Aku sangat berbahagia.

Aku menerima diriku apa adanya. Dan aku menerima Dia tanpa syarat.
Doaku adalah doa-Nya
Langkahku adalah Langkah-Nya.
Nafasku adalah nafas-Nya.
Dia Maha Pemurah. Dia selalu menjagaku.
Aku tak kekurangan satu apa pun.
Aku sangat bersyukur.

Aku mau apa lagi?
Aku ingin melihatmu bahagia sepertiku.

Bila kita berjumpa, akan aku bagikan ceritaku.
Bersama-sama kita menertawakan asistenku yang selalu berdiri tegap kaku dengan rambutnya yang kelimis seperti disiram minyak goreng itu. :-)
Dan bersama-sama kita tertawakan celanaku yang sobek tepat di lututku, juga dekil karena belum kucuci selama dua minggu ini. :-)

Kita tertawa bersama mengenang masa-masa sekolah kita. Masa kanak-kanak kita. Dan bersama kita syukuri hidup kita yang penuh kebahagiaan ini. Air mata menetes membasahi pipi kita, terharu akan semua kenikmatan hidup ini.
Puluhan tahun kita bersahabat, dan kebahagiaan itu semakin berlipat-lipat.

Aku ada di sini untuk membuatmu bahagia.
Dan kau ada di sini untuk membuatku bahagia.
Di sini di samping meja kecil dengan secangkir teh hangat dan sepiring roti bakar.

Apa yang kita inginkan lagi?
Kami ingin melihat kalian berbahagia seperti kami.

Temuilah kami di sini.
Kita berbagi cerita dan kebahagiaan ini bersama-sama.
Kami menunggumu.








Diary 9:
The Jolt #1: Singular
(Sentakan #1: Tunggal)

Saya baru saja berbincang panjang dengan seorang kekasih Tuhan, seorang Penyembuh. Setiap kali kami berbincang / berdiskusi selalu saja ada hal yang menarik / penting yang kami petik bersama. Petikan itu terjadi bagaikan sebuah sentakan di hati kami.

Pada awal kehidupan kita, dirasa hidup ini seperti kejadian biasa yang tidak penting. Ada
yang diawali dengan kesenangan hidup, ada yang susah. Tahun demi tahun berlalu hingga saat ini kita renungkan bahwa semua momen hidup kita saling berhubungan, berkaitan, rangkaian kisah yang tak putus. Di sini kita menyadari akan pentingnya setiap tindakan kita di masa lalu yang menjadikan siapa kita sekarang ini.

Jika kalian menelusuri hidup anda, apakah kalian menyesalinya? Atau mensyukurinya?
Hanya anda yang bisa menjawabnya sendiri.

Walaupun gambaran akan rangkaian kisah masa lalu dapat kita lihat, namun kita masih saja tidak mampu mereka-reka kejadian di masa depan. Karena semua kejadian yang kita alami pun serasa penuh dengan kejadian-kejadian tak terduga, kadang seperti di luar akal sehat. Miracle. Ajaib.

Beruntunglah kita yang diberi kesadaran untuk dapat selalu mengkaji rangkaian kejadian-kejadian itu. Adapun demikian, pasti ada beberapa kejadian yang paling penting yang merubah arah hidup anda.

Saya akan membagikan satu hal;

Salah satu "sentakan" kejadian yang paling penting dalam hidup saya dan merubah pandangan hidup saya secara total adalah saat saya menyadari kebenaran - esensi keberadaan Tuhan. Ini terjadi pada tahun 2008. Satu tahun setelah saya mengawali penulisan blog saya.

Bertahun-tahun lamanya kita dibatasi oleh batasan fisik - dualitas mengenai keberadaan Tuhan - yang menyesatkan kita. Dikatakan Tuhan itu menempati suatu posisi. Bahkan dia memiliki singgasana, dia berada di atas, berwujud serupa manusia, dan lain sebagainya.
Hal ini adalah yang disebut meng-orang-kan Tuhan atau mempersonafikasikan Tuhan.

Bagaimana mungkin Tuhan memerlukan tempat / ruang untuk eksis bila Dia-lah pencipta ruang itu sendiri?
Tentunya Tuhan yang hakiki tidak bergantung pada ciptaan-Nya sendiri. Coba anda renungkan ini.
Tuhan tidak bergantung pada ruang maupun waktu karena ruang dan waktu adalah ciptaan-Nya!

Jadi, dimanakah Tuhan? dan;
Dimanakah Tuhan menciptakan alam ini semua?

Saya mohon anda renungkan dan menjawabnya sendiri. Karena saya tidak bisa menularkan sentakan saya pada anda. Anda yang harus mengalaminya sendiri.

---------------

Pemahaman mengenai hal ini merubah semua pandangan saya secara mendasar / fundamental, dan seperti runtuhnya semua dinding penjara di sekeliling saya seketika itu juga.
Pandangan saya bebas ke segala arah, tanpa batas.


Saya bantu sedikit:

Tuhan adalah Zat yang SENDIRIAN (alone, the only ONE).
Dialah SATU-SATUnya Zat yang ada (Singular)
Maka tidak ada APA PUN selain Tuhan.
Tidak ada Tuhan selain Tuhan.








Diary 10:
Entrainment

Jika mencari di kamus, kata 'Entrainment' tidak ada. Kata ini berasal dari 'Entrain' (en-train)
yaitu bermakna 'naik kereta' atau dinaikkan ke kereta, dengan nuansa yang tidak disengaja, atau terpaksa. Sehingga 'Entrainment' artinya suatu kondisi dimana seseorang dinaikkan ke kereta tanpa disadarinya.

Seorang 'Pencari' (Seeker) adalah seorang yang menginginkan mendapatkan pencerahan. Ia ingin meningkatkan kesadarannya. Peningkatan kesadaran adalah mengetahui kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang hakiki tidak hanya diajarkan, tetapi juga harus benar-benar dipahami. Karena sangat banyak orang yang mengatakan mereka tahu tetapi tindakannya atau pola berpikirnya bertolak-belakang.

Setelah kebenaran yang hakiki itu diketahui lalu dipahami, maka akan runtuh semua dinding di sekelilingnya yang memisahkan dirinya dengan kebenaran itu sendiri. Maka ia akan tidak hanya memahami, tetapi juga mengakui dan mampu bersaksi dengan keteguhan segenap hatinya.

Secara tradisi, alam ini adalah cahaya. Kebenaran yang hakiki disimbolkan ke dalam cahaya (light). Maka seorang yang telah mencapai kesaksian pamungkas ini, disebut "Enlightened" (Tercerahkan, oleh cahaya).

Pencapaian kondisi tercerahkan bagi Para Pencari biasanya dicapai dengan bantuan seorang yang sudah lebih dulu tercerahkan. Para pencari atau pelajar berguru padanya. Namun ilmu pengetahuan pamungkas ini tidak semuanya dapat terucapkan dengan bahasa. Karena untuk menjadi saksi, ia harus mengalaminya sendiri.

Ingat, kesadaran (consciousness) adalah energi.
Maka, pendekatan seorang murid kepada guru adalah mendekatnya Lower Energy Field of Consciousess kepada Higher Energy Field of Consciousness.
= Pendekatan kesadaran dengan energi lebih rendah kepada kesadaran dengan energi lebih besar/tinggi.

Setelah sekian lama berguru padanya, sampailah kau pada kondisi dimana logikamu sudah tidak dapat membantumu. Semua pertanyaanmu sudah dijawab oleh sang guru. Yang tinggal hanya kesunyian, tanpa suara. Hanya ada hatimu.
Sekarang tinggallah energi-mu bersatu dengan energi-nya. Yang terjadi kemudian adalah ENTRAINMENT.

Kau seperti dinaikkan ke atas gerbong kereta api, lalu kau bergerak bersama kereta tersebut.
Energi-mu mulai selaras dengan energi sang guru. Energi kesadaranmu meningkat bersamanya. Di sinilah dinding pemisah itu runtuh yang memisahkanmu dengannya. Pengetahuanmu dengannya mulai bersatu. Sejak saat ini, selama kau berada di dalam kereta itu, apa yang dia ketahui kau juga mengetahuinya.

Bagaimana ini bisa terjadi?
Inilah Entrainment. Inilah peristiwa alamiah yang terjadi antara kau dan dia. Kau telah mengikat rasa dengannya. Rasa itu adalah pasrah total (total surrender) dilandasi cinta tulus tanpa syarat.

Pengetahuan illahi hanya datang melalui Cinta.
The Divine Knowing only comes with Love.

Damai... damai... damai...
Sadhu... sadhu... sadhu...

--------------

Pengalaman saya dengan guru, pengalaman saya dengan murid, bisa dibaca di dalam dua article ini:


"Transformation of the Heart"

Lalu mereka pun pergi bersama, di artikel ini:

"Butterflies' Valediction"








Diary 11:
The Jolt #2: Bewilderment
(Sentakan #2: Kebingungan)

Ini sepertinya hal sepele, tetapi memang inilah yang terjadi. Dan hal ini pun dibenarkan oleh guru saya.
Satu lagi sentakan yang pasti akan dialami oleh setiap orang dalam perjalanan mereka mencapai pencerahan spiritual, adalah "Kebingungan".

Kebingungan ini tidak sekali, tetapi terjadi berkali-kali, dan semakin pelik kondisinya. Namun saya ingin mengulas yang paling sederhana, yang dijumpai pertama kali. Adalah kebingungan akan hilangnya kemampuan untuk membuat rencana.

Sangat ironis, saya yang sudah bekerja selama belasan tahun - mengasah kemampuan saya untuk menyusun rencana sebaik-baiknya, ---- Dulu, otak saya penuh dengan antisipasi, Jika harus membuat rencana, saya akan rencanakan dalam berbagai kemungkinan kondisi yang akan terjadi. Plan A, Plan B, Plan C, dst. sangat komplit dan terperinci / detail, ---- menemukan momen di mana kemampuan itu hilang seketika. Semakin lama semakin menipis dan pada akhirnya saya letakkan tangan saya di atas meja, menutup lembar rencana yang hanya tinggal kertas kosong.

Lalu, jika ditanya oleh orang, "Apa recanamu?" Saya menjawab, "Bahagia", atau "Sukses". Tidak ada breakdown plan, tidak ada detail, tidak ada Plan B, C, Tidak ada How To, tidak ada What-If, tidak ada analisa SWOT, atau lainnya, lainnya, lainnya.

Di level ini, melakukan Plan A, Plan B, dst (yaitu jika A gagal, maka B, jika B gagal maka C, dst) bagi saya sama saja dengan merencakan kegagalan saya sendiri.

Di level pencapaian kesadaran ini, RENCANA adalah WISDOM. Ingat, Widsom harus datang lebih dulu. Dari Wisdom, turun ke Knowledge, lalu ke Information, dan terakhir ke Data.
Wisdom tertinggi adalah Wisdom Illahi. Kearifan Tuhan. Dan karena Tuhan berbicara dalam bahasa rasa, maka wisdom itu berbentuk Rasa.

Jika Wisdom dalam Rasa itu diresapi dengan sungguh-sungguh, adalah energi yang menggetarkan setiap sel di tubuh. Seperti pada tulisan saya yang berjudul "The Healer" (Part 1, 2, 3), energi itu adalah energi elektromagnetik yang berpengaruh langsung pada air di dalam tubuh, di dalam sel, yang kemudian berbicara / memprogram relung-relung DNA kita, sehingga seluruh tubuh ini memahami apa yang di-rasa-kan oleh kita. Dengan kata lain seluruh tubuh ini memahami Wisdom yang kita rasakan.

Kemudian sel-sel kita akan memancarkan gelombang elektromagnetik itu ke luar, yang terpusat melalui kelenjar Thymus yang berada di dada, terpancar ke luar, ke alam ini, sampai berkilo-kilo meter jauh jangkauannya. Terus semakin kuat hingga tak berhingga jangkauannya. Inilah peristiwa manifestasi dalam kejadiannya.

Di saat yang kau butuhkan, terjadi chanelling antara dirimu dan alam. Channeling ini berwujud ilham. Kau mendapatkan ilham, ide, inspirasi. Inilah Knowledge.
You know what to do!
Kau tau apa yang harus kau lakukan tepat di saat kau harus melakukannya.

Lalu kau bergerak menuliskan Knowledge itu ke dalam rincian sederhana, Jadilah Information yang dapat dipahami oleh siapa saja yang membacanya. Dari situ kau bergerak satu-per satu, seperti check-list (Data), ke arah terlaksananya gerakmu menuju perwujudan dari Wisdom-mu itu sendiri.

Begitulah yang terjadi. Gerakmu dalam hidup adalah gerak alamiah. Alamiah adalah bersama Tuhan. Kau libatkan Tuhan dalam gerakmu. Kau hadirkan Tuhan secara nyata dalam hidupmu, di setiap saat, di setiap nafasmu.

Hanya saja, kau harus peka terhadap alam. Karena bahasanya sangat halus. Dan kau harus memiliki keteguhan hati yang tak goyah, serta tanpa keraguan sedikitpun. Berserah diri secara total. Apa pun yang terjadi adalah yang terbaik. Di sini kau berencana, melakukan, dan menentukan bersama Tuhan.

Aku yang sekarang bukan lagi aku yang dulu.
Inilah sentakan penting yang menyadarkanku akan kehadiran Tuhan dalam setiap gerakku.








Diary 12:
Forgiveness
(Pengampunan)


Dua belas hari sudah saya menulis catatan harian ini, dan tepat di hari ke-12 ini adalah hari terakhir bulan Ramadhan, cahaya illahi menujukkan kata “Pengampunan” untuk catatan saya hari ini. Kebetulankah?

Setelah menulis Taubah, Ikhlas, Cleansing, Acceptance, Entrainment,… dan sekarang catatan saya berjudul “Forgiveness (Pengampunan)”… Semua itu adalah serangkaian peristiwa yang terjadi pada setiap Pengelana. Semua itu tidak saya rencanakan untuk disusun demikian. Bahkan saya tidak harus menulis apa pun. Tetapi bulan Mei dan Juni ini adalah dua bulan yang terbanyak saya menulis. Tidak ada yang kebetulan.

Di dalam pembelajaran saya, satu hal yang terpenting yang diajarkan kepada saya sebagai dasar adalah pembersihan diri, Pembersihan dari kotoran hidup selama hidup bertahun-tahun. Pembersihan ini bukan perkara mudah. Setiap orang akan mengalami yang berbeda-beda. Seperti pakaian kotor yang dicuci di atas batu di pinggir sungai.

Setelah itu barulah saya siap untuk melakukan yang terberat, yaitu Pengampunan.
Awalnya saya bertanya dalam hati, adakah yang lebih menyakitkan dari pembersihan diri? Dan nyatanya Pengampunan adalah yang terberat.

Pertama, saya harus mengingat semua orang yang pernah saya sakiti, baik sengaja maupun tidak. besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan, baik yang masih hidup maupun yan gsudah mati. Lalu saya harus meminta maaf kepada mereka. Hal ini dilakukan di dalam hati, dalam meditasi.

Kedua, saya harus mengingat semua orang yang pernah menyakiti saya, yang pernah berbuat jahat pada saya, baik sengaja maupun tidak sengaja. besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan, baik yang masih hidup maupun yan gsudah mati. Lalu saya harus mengampuni mereka.

Kedua jenis pengampunan di atas tampaknya sederhana, tetapi nyatanya sudah cukup sulit dilakukan.

Dan ketiga, adalah yang terberat dan tersulit. Memaafkan diri sendiri.
Saya tidak ingin membuka lebih banyak, karena anda hanya akan paham bila sudah mengalaminya.

---------------

Penyesalan adalah kemelekatan. Accept! Terimalah semua yang terjadi padamu. Terimalah semua masa lalu, terimalah dirimu apa adanya. Lepaskan dirimu dari belenggu masa lalu. Dari semua salah dan benar, dari semua buruk dan baik, dari semua janji dan harapan.

Inilah pembersihan diri yang terakhir. Inilah dimana hatimu dibersihkan.
Kau bukanlah kau yang dulu. Kau adalah kau yang sekarang. Tak melekat, bebas, lepas, merdeka. Kau yang sekarang adalah yang memaafkan dan yang termaafkan.
Kau yang sekarang adalah kau yang telah mengalami Taubah, kau yang Ikhlas dengan segala kerendahan hatimu.

Hati yang bersih adalah hati yang menerima diri sendiri apa adanya, dan menerima Tuhan apa adanya. Tanpa syarat apa pun.
Bagaikan cawan kosong yang bersih, siap diisi dengan Pengetahuan-Nya.
Hati yang bersih akan membuka, bersih, bersinar.
Hati yang bersih akan meluas, melapang, hingga mencakup seluruh alam semesta ini.
Kau saksikan tempat-Nya di dalam hatimu dan tempatmu di dalam-Nya.

Hari ini kau dibersihkan.
Hari ini disucikan.
Kau terlahir kembali.

Selamat menikmati hari kemenanganmu!










Diary 13:
Spiritual Revival 
(Kebangkitan Spiritual Semula)


This is a short journal of the polished hearts.
(Ini adalah catatan singkat para hati yang terpoles).

Aku menerima salammu, aku menerima pesan-pesanmu. Aku menikmati perbincangan kita. Aku menikmati cengkrama denganmu dari hari ke hari.

Kebersamaan bertahun, menggugah hati yang terlelap, menyapa hati yang sepi, mengobati hati yang luka, menyeka hati yang ternoda, mendera hati yang membatu.
Deburan ombakmu pada karangku mengikis tepian hingga tergerus, terpecah, dan tiba saatnya terpapar sinar mentari.

Kau menyibak hari yang mendung, menghujani tanah yang tandus. Menerangi hati yang gelap.
Dan yang terpenting, kau membuka pintu hati yang selama ini terkunci.
Kau terangi ruangan hati itu. Ruang yang tidak pernah terbuka sebelumnya.
Kau bersihkan ia dan kau jadikan ia tempat terbaik dan ternyaman di dalam diriku.
Di sinilah tempatmu bersemayam. Tak tergantikan, tak terasingkan.

Kau adalah teman, sahabat, kekasih dan belahan jiwa.
Kau menerimaku apa adanya seperti aku menerimamu apa adanya.
Kau dihadirkan ke hadapanku, tanpa kuminta, tanpa kucari.
Atau sesungguhnya aku sudah mencari dan menantikanmu sedari dulu tanpa aku menyadarinya?
Kita sudah saling mencari sejak dahulu. Dan sekarang kita menyadarinya.

Inilah sebentuk kesadaran baru yang kita capai dan gapai bersama.
Kaulah kepingan puzzle terakhir, pelengkap teka-teki hidupku. 
Pelengkap hidup, penutup kisah.

Selanjutnya kita akan selalu bersama mengarungi dunia baru pada tingkat kesadaran baru.

Hanya ada syukur kupanjatkan.
Hanya kebahagiaan sebagai rasaku.

Terima kasih telah memaniku, dan menjadi saksiku.
Hati yang terpoles, hati yang cemerlang, memancarkan sinar illahi dari ruang hati terdalam.
Inilah diri kita yang sesungguhnya.

Aku panjatkan salam untukmu, my Beloved,
salam tentram, salam cinta, salam damai.





---------------
Erianto Rachman

Tidak ada komentar: