Rabu, 27 September 2017

Abel






Abel adalah nama sekuntum bunga mawar merah yang baru saja membukakan kelopaknya untuk pertama kalinya kepada dunia.
Kelopaknya tebal dan lebar. Warna merahnya cantik mempesona, memandang alam yang terbentang sangat indah di sekelilingnya.
Batangnya yang kuat, hijau dan berduri, muncul menjulang dari tanah, seolah tak kan ada yang mampu menggoyahkannya.

Abel tumbuh di sebidang taman kecil yang tak terurus, hampir tandus, di tengah permukiman penduduk yang sepi. Ia hanya sendiri, tiada yang tumbuh bersamanya di sini.
Hari ini untuk pertama kalinya ia menunjukkan dirinya yang cantik kepada dunia.

Walaupun Abel tumbuh cantik, dan tidak kalah cantiknya bila dibandingkan dengan bunga-bunga mawar lainnya yang tumbuh normal di atas tanah yang subur terawat, yang tidak diketahui oleh orang adalah Abel memiliki akar yang sangat lemah. Ia tumbuh di tanah tandus yang hampir mati. Ia hanya bertahan dari embun pagi yang sangat sedikit dan cepat menguap disinari matahari pagi.

Panasnya matahari siang hari mengeringkan tubuhnya. Mekarnya Abel hari ini kemungkinan pula adalah mekarnya untuk yang terakhir untuknya. Tidak ada satu alasan pun yang mengharuskannya hidup. Tetapi ia tetap mekar. Mekarnya ia persembahkan untuk Tuhannya yang menciptakannya.

Kecantikannya sungguh mempesona. Warna merahnya menarik perhatian banyak kumbang dan kupu-kupu. Wangi tubuhnya menyerbak ke segala penjuru. Siapa pun yang tengah berjalan, terhenti langkah untuk melihatnya.

Terdapat satu orang yang sudah berusia paruh baya yang tidak hanya menghentikan langkahnya, tetapi juga datang mendekati. Dialah sang pengagum.
Disapanya Abel dengan lembut, dan bertanya,
"Apakah kau masih akan mekar dengan indahnya esok hari?"
Abel menjawab, "Ya."
Keesokan harinya orang yang sama, sang pengagum, datang kembali. Kali ini ia duduk di samping Abel dan menikmati keindahan dan keharumannya dengan lebih lama. Ia pun bertanya,
"Apakah kau masih akan mekar dengan indah esok hari?"
Abel menjawab, "Ya."
Esok harinya sang pengagum datang lagi, tetapi Abel sudah kehilangan beberapa helai kelopaknya. Abel merunduk di atas batangnya yang sudah tidak sehijau kemarin.
Sang pengagum terkejut dan bertanya apakah yang terjadi padanya.

Abel tidak menjawab. Ia terlalu lemah untuk berbicara.

Sang pengagum berlutut disampingnya, tangannya menyentuh Abel dengan lembut, mengangkat sekuntum bunga yang sudah terkulai lemah itu. Ia bertanya-tanya apakah gerakan yang terjadi.

Abel tidak bergeming.

Sang pengagum tak kuasa menahan rasa ibanya kepada sekuntum bunga mawar yang selama beberapa hari ini telah menghiburnya.Tidak satu orang pun yang tahu betapa keberadaan sekuntum bunga mawar sederhana itu sangat berpengaruh pada dirinya. Baru kali ini di dalam hidupnya ia merasakan kebahagiaan yang sangat besar hanya dengan memandang sekuntum keindahan ciptaan Tuhan itu.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari ini Sang Pengagum telah merasakan cinta yang sangat dalam yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Sang Pengagum berlari pulang mengambil sebuah pot yang sudah diisinya dengan tanah subur.

Menggunakan tangannya ia gali tanah di sekeliling Abel. Tanah terasa kering bagai pasir. Dan terlihat akar yang kurus, pucar dan lemah tercabut dari tanah yang sudah tidak lagi mampu menghidupinya. Abel berada di ambang kematiannya.

Sang Pengagum menangis, ia terkejut mendapai kondisi kehidupan Abel yang ternyata sudah sangat mengenaskan itu. Tangannya gemetar sambil mengangkat Abel dengan sangat hati-hati.
"Akan aku pelihara dirimu, akan aku selamatkan dirimu...!" Serunya pada Abel.

Setelah Abel sudah berhasil dipindahkah ke dalam pot, sang pengagum berlari ke rumahnya. Ia letakkan pot bunga di tepi jendela kamarnya. Ia tuangkan sedikit air ke dalam pot.
"Janganlah kau tinggalkan aku, wahai bunga yang cantik. Bertahanlah untukku! Kau telah membawa kebahagiaan untukku. Kau telah merubah hidupku!"

Setiap hari sang pengagum memelihara Abel, menuangkan air, memberikannya pupuk, dan menyapanya setiap pagi sebelum berangkat bekerja.

Perlahan Abel pulih dari kondisinya yang sekarat. Akar-akarnya yang lembut serta lemah semakin menguat. Batangnya kembali sehat dan menghijau, serta tegak mengangkat dirinya kembali menjulang ke atas menghadap sang mentari pagi. Merahnya kembali merekah. Kelopaknya kembali merona indah.

Suatu pagi sang pengagum dibangunkan dari tidurnya oleh keharuman Abel yang memenuhi seluruh sudut rumah. Sang pengagum tertawa gembira mendapati bunga mawar yang dibawanya pulang itu hidup sempurna kembali. Didekatinya Abel dengan penuh suka cita. 

Abel memandangnya dengan senyuman, lalu berkata,
"Terima kasih wahai pengagumku. Kau telah memberikan kesempatan hidup kepadaku. Kau adalah penyelamatku." 
"Bunga mawarku, kau telah menghiasi hidupku. Hidupku menjadi indah karenamu. Kau terima diriku apa adanya. Kau telah bagikan wangi dan keindahanmu kepadaku. Kaulah kebahagiaanku."
"Pujianmu melembutkan hatiku, wahai sang pengagumku."

Hari demi hari Abel setia menebarkan harum tubuhnya bagi sang pengagum. Kecantikannya yang sangat mempesona menjadikan seluruh alam turut berbahagia bersama mereka.

Abel menghabiskan hari demi hari di dalam sebuah pot kecil di tepi jendela kamar sang pengagum. Ia melihat taman di hadapannya yang mulai pula ditumbuhi bunga-bunga. Keberadaan Abel membuat tanaman-tanaman lain merasakan semangat hidup dan mereka satu demi satu bangkit, tumbuh dan berkembang.

Sang pengagum melihat perubahan ini. Keajaiban terjadi di hadapannya setelah ia membawa Abel pulang bersamanya. 
"Oh Tuhan, inikah berkah dari-Mu ke atasku?"  Ucapnya kagum.

Tanaman-tanaman itu berbicara kepada Abel dalam bahasa hati. Mereka mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas berkah yang disalurkannya dari Tuhan kepada mereka.

Di sudut taman, terdapat sekuntum bunga mawar putih yang menyapa Abel di suatu pagi,
"Siapakah namamu wahai bunga mulia pembawa berkah?"
Abel menengok ke arah mawar putih itu,
"Namaku, Abel."
Tidak pernah sekalipun ada makhluk yang menanyakan namanya. Tidak pula dari sang pengagumnya. Abel tertegun lama memandang si mawah putih, kemudian bertanya padanya,
"Siapakah kau wahai mawar putih?"
"Aku hanyalah sekuntum bunga mawar putih, kau boleh memanggilku mawar putih. Aku sudah lama berada di sini dan menantikan kehadiran makhluk berhati mulia sepertimu. Kau adalah apa yang kulihat di dalam mimpiku. Kau adalah yang akan memberikan arti kehidupan yang sesungguhnya bagi seluruh penghuni taman ini." Jawab si Mawar Putih.
"O wahai Mawar Putih yang bijak, sesungguhnya aku baru saja hidup dan dihidupkan. Aku belum mengenal arti hidup. Aku yang selalu hidup sendirian sejak pertama kalinya aku berkembang. Bagaimana mungkin aku menjadi makhluk mulia dan hadir di dalam mimpimu? 
Sudikah kiranya kau mengajarkannya kepadaku?"

Abel dan si Mawar Putih mulai menghabiskan waktu bersama-sama. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, Mawar Putih membagikan pengetahuan illahi kepada Abel, mengenalkannya kepada Tuhan yang Maha Merindukan. 
"Kau adalah Abel, sekuntum bunga mawar yang hanya punya satu fitrah hidupmu, yaitu tumbuh berkembang. Wangimu yang harum adalah dirimu yang sejati. Kecantikanmu adalah dirimu yang sejati. Hatimu yang mulia adalah dirimu yang sejati. Kau diciptakan Tuhan untuk menjalankan semua fitrahmu itu, di dalam tubuhmu yang satu. Hanya dengan hidup kau sudah menjalankan fitrahmu. Karena itulah kau ada di dunia ini. Karena itulah Tuhan menciptakanmu. 
Siapa yang mengenal dirinya yang sejati, maka dia mengenal Tuhannya.
Tuhan adalah Sang Maha Merindu, kau adalah kerinduan-Nya. Ia ingin kau merasakan kerinduan-Nya. Karena Dia-lah kau ada, untuk merasakan kerinduan-Nya. 
Wahai mawar merah yang mulia, terdapat dua jenis manusia di dunia ini; mereka yang mengagumi ciptaan Tuhan, dan mereka yang memahami ciptaan Tuhan. 
Mereka yang mengagumi, menikmati rahmat Tuhan ke atas mereka tanpa merasa perlu menanyakan hakikat dari apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka terima. Bagi mereka kebahagiaan itu datang memang untuk mereka. 
Sedangkan mereka yang memahami, akan selalu bertanya hakikat atas apa yang mereka rasakan; 'Siapakah dirimu yang hakiki sehingga kau membuatku bahagia seperti ini?' 
Kemudian mereka masing-masing pun bertanya; 'Siapakah diriku yang sesungguhnya, yang hakiki, dan mengapa aku ada serta memberikan kebahagiaan bagi yang lainnya?'"

Abel menangis tersedu-sedu di hadapan sang Mawah Putih. Hatinya bagai telah dibuka selebar-lebarnya, matanya yang terpejam rapat tetapi mampu melihat segalanya dengan lebih jernih dan jauh ke dalam. Ia melihat hakikat, ia melihat esensi. Ia telah dipertemukan dengan rasa Tuhan. 
"O wahai Mawar Putih yang arif. Aku memahamimu. Aku merasakan Kerinduan-Nya. Aku ada karena-Nya. Dan Dia ada merindukanku.
"Kau adalah Guruku yang Agung. Aku sangat bersyukur telah dipertemukan denganmu. Aku sekarang mengenali siapa diriku yang sejati dan untuk apa aku ada di dunia ini. Aku merasa telah dibebaskan. Inilah kebebasan yang hakiki, yaitu merasakan Tuhan yang Kerinduannya tak berbatas..
Cintaku kepada sesama makhluk adalah cinta Tuhan kepadaku. Cintaku padamu adalah cinta Tuhan padaku. Dan cintamu padaku adalah cinta Tuhan padamu. Karena kita semua pada hakikatnya adalah Zat Tuhan Yang Satu, Yang Maha Merindukan."


Di akhir tahun itu, Abel berbicara dengan Sang pengagum yang selama ini setia memeliharanya dengan baik,
"Wahai sang pengagumku, kini kau bisa lepaskan aku dari pot yang indah yang selama ini telah menghidupkanku. Tanamlah aku di taman di depan situ. Tanamlah aku di dekat sekuntum Mawar Putih itu."
Sang pengagum memandangnya sedih,
"Mengapa kau ingin meninggalkan aku setelah aku memeliharamu dengan sangat baiknya?"
Abel menjawab,
"Wahai manusia yang sangat baik hati, aku tidak meninggalkanmu. Cintaku pada Tuhanku akan selalu mengharumkan seisi hatimu, kecantikanku akan selalu ada menghiasi hari-harimu. Aku bersyukur telah diselamatkan olehmu, kaulah sang penyelamatku. Jasamu tidak akan pernah aku lupakan, dan aku akan selalu menjadi sekuntum mawar merah yang membahagiakanmu. 
Tetapi pahamilah wahai sang pengagumku, kini aku harus menunaikan fitrahku yang terakhir, yaitu tumbuh bebas di tanah yang luas, agar akarku bebas menggali di tanah sedalam-dalamnya, menyuburkan tanah dengan kerinduanku pada Tuhanku, serta menyemai benih-benih cintaku di atas tanah subur yang tak berbatas. Kemudian kau akan melihat akan ada banyak mawar-mawar merah sepertiku tumbuh di sekelilingku. Mereka adalah aku. Keharuman dan kecantikan mereka adalah aku. Mereka akan menjadi bunga-bunga cantik yang memahami fitrah mereka, yaitu merindukanku. 
Sekarang, bantulah aku untuk yang terakhir kalinya. Pindahkan aku ke taman itu. Tugasmu sudah selesai. Dan biarkan aku menyelesaikan pula tugas akhirku."

Dengan berat hati, namun tak berdaya mencegahnya, Sang pengagum memindahkan Abel dari pot kecil ke tanah di taman di depan rumahnya sesuai permintaan Abel. Ia tanamkan Abel di samping sekuntum bunga mawar putih. Sang pengagum meneteskan air matanya ke tanah. Dibelainya Abel dengan lembut. Dibelai pula si Mawar Putih dengan lembut. 
"Keharumanmu telah membuaiku, kecantikanmu telah memanjakanku. Di penghujung hidupmu ini kau pun masih akan menyemaikan taman ini dengan benih-benih keindahanmu. Aku ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya padamu. Tanpamu aku tidak akan paham arti syukur yang sesungguhnya.


Abel pun hidup berbahagia di samping Mawar Putih. 
Ia memenuhi fitrahnya dan janjinya yang terakhir. Kumbang-kumbang dan kupu-kupu datang pada mereka dan membantu menyemaikan benih-benih mereka di tanah subur yang luas itu.

Sebulan kemudian taman yang luas itu dipenuhi bunga mawar berwarna merah, putih, dan merah muda. Taman itu menjadi sangat indah. Sang pengagum turut merawat taman itu setiap hari, dibantu seluruh penduduk yang tinggal di sekitarnya. Orang-orang bersama keluarga-keluarga mereka datang berkunjung setiap pagi dan sore hari menikmati keindahan taman mawar yang penuh keagungan cinta. 

Keberadaan taman merubah kondisi pemukiman. Menjadikan kehidupan penuh gairah, semangat, saling sapa, saling berjumpa di taman untuk bercengkerama, menjalin persahabatan dan kasih di antara mereka. Sekarang mereka memiliki taman bunga mawar yang sangat indah, yang selalu berkembang sepanjang tahun, menjadi inspirasi kehidupan mereka yang penuh kasih bahagia. Cinta Tuhan mengalir di antara mereka.

Kepahaman illahi antara Abel dan sang Mawar Putih membawa kebahagiaan bagi semua makhluk.




Di suatu malam yang sunyi, di bawah sinar bulan purnama, Sang pengagum melamun di tepi jendela kamarnya, memandang ke arah taman mawar. Sayup-sayup ia mendengar,
"Namaku, Abel."





--------------------
Erianto Rachman